Langsung ke konten utama

SEGALANYA DIANGGAP ''SAMPAH''

SEGALANYA  DIANGGAP ''SAMPAH''

Kalau kita mendengar, membaca kisah perjuangan para penambang emas ilegal dalam berburu emas di tempat pertambangan yang biasanya jauh dari pemukiman dan kondisi wilayahnya cukup berbahaya, kita tentu akan menghela nafas panjang. Demi mendapatkan butiran emas mereka rela menyabung nyawa untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. Tidak jarang meraka harus berhadapan dengan maut ketika menuju ke tempat tersebut, karena harus melewati jalan yang membahayakan. Belum lagi di tempat kerja, mereka harus menggali tanah dan masuk ke dalam lobang galian yang dalam dengan kondisi udara oksigen yang tipis, sehingga harus bernafas tersengal. Belum lagi resiko longsor, apalagi di musim penghujan. Banyak kisah yang menyayat hati yang dapat diceritakan oleh mereka yang mengalami bencana akibat tambang yang digali longsor, belasan temannya terkubur hidup-hidup. Itu lah perjuangan hidup yang harus dilewati dan dialami, tidak mudah karena penuh keringat, air mata bahkan nyawa taruhannya.

Sampai suatu saat mereka menemukan bongkahan batu atau tanah yang berkilau mengandung bijih emas, maka mereka pun bersorak gembira dan melupakan kesulitan serta tantangan yang mereka lalui. Apa yang mereka cari akhirnya ketemu, tanah atau batu itu petunjuk bahwa di wilayah tersebut banyak mengandung bijih emas. Pencarian yang mereka berhari-hari kerjakan ternyata membuahkan hasil. Andaikan mereka menyerah kwtika kurang sejengkal menggali, maka emas tersebut tidak ditemukan, padahal tinggal sejengkal. Perjuangan dan pantang menyerah ternyata membuahkan hasil yang sepadan. Terbayang sudah rejeki yang akan mereka dapatkan berkat kerja keras bersama tim dan semangat pantang menyerah untuk terus mencari. Ternyata benar, siapa yang mencari ia akan mendapatkan. Entah kapan waktunya, hanya keberuntunganlah yang berpihak. Tanpa keberuntungan sia-sia lah pencarian itu.

Hidup juga mencari yang paling berharga bagi hidup. Pencarian apa yang bermakna dalam hidup ini dilakukan semua manusia. Apa tujuan hidup? Apa yang membuat hidup bahagia dan damai? Pencarian ini terus dilakukan, tetapi kebanyakan tidak menemukan, karena manusia mencari di luar dirinya. Manusia kebanyakan mencari melalui tokoh atau orang yang dianggap telah menemukan makna hidup dan menjadikan mereka sebagai penasehat rohani, penasehat agama atau penasehat spiritual dan sebutan lain, yang menunjukkan bahwa orang dimaksud sudah paham akan kehidupan. Tetapi kenyataan yang didapat, dalam pencarian mereka tidak menemukan apapun kecuali berisi nasehat yang dihubungkan dengan keyakinan sesuai yang dianut. Hati tetap bertanya apa sebenarnya makna hidup ini? Hanya karena dogma dan indoktrinasi, manusia tidak mau mengakui bahwa pencarian melalui keyakinan tidak menemukan apapun. Manusia hanya meng'iya' kan, tanpa menghayati dan memahami apa yang di 'iya' kan. Semua hanya semu. Lalu dimana seharusnya manusia mencari makna hidup?

Kekosongan dalam pencarian di luar diri menjadikan manusia akan terus bertanya karena yang dicari tidak ditemukan, yang ada hanya fatamorgana dan tekanan supaya mengakui telah menemukan 'Tuhan', bukan pengakuan bebas yang muncul dari pikiran dan ketenangan hati. Sampai akhirnya menjadi jemu dan ritual agama hanya dijalani tanpa makna.
Pencarian makna kehidupan dimulai dari dalam diri,  bukan dari luar diri. Ini adalah spiritual warisan leluhur Nusantara. Setelah berusaha menemukan di luar diri tidak pernah menemukan, akhirnya manusia akan kembali ke dirinya. Bertanya dalam dirinya dalam permenungan panjang. Dengan hening dan mencari dalam relung terdalam diri, dalam ''senhong'' atau ''sanggar pamujan'' di hati yang benar-benar hening, barulah disadari apa makna hidup manusia bagi diri sendiri. Tidak butuh ritual, pujian dan gaung paduan suara, atau teriak-teriak memanggil 'Tuhan', tetapi dalam keheningan akan ditemukan yang dicari semua manusia hidup.

Akhirnya manusia kembali kepada spiritual warisan leluhur, yakni mencari dalam diri sendiri. Ketika ditemukan dengan kesadaran, ternyata '''Tuhan:'' ada Di sini, Saat ini dan Seperti ini. Pencarian mutiara atau hal yang berharga, dalam waktu yang panjang tak kenal lelah akhirnya membuahkan hasil. Setelah menggali begitu dalam di dalam diri, ternyata ketemu diri sejati. Perjalanan panjang nan melelahkan, terobati setelah bertemu ''Di sini, Saat ini dan Seperti ini'' Inilah sejatinya hidup bukan di masa lampau dan masa depan, tetapi 'Di sini, Saat ini dan Seperti ini'.  Ternyata yang dicari kesana kemari telah 'Manunggal' dengan diri. Bukan berada di masa lalu dengan dogma dan doktrin serta bukan di masa depan dengan impian surga neraka. Pencarian hanya dapat dilakukan oleh diri sendiri dan dalam diri sendiri, tanpa harus melalui guru, karena diri sendiri adalah guru sejati.

Secara  universal manusia yang sudah menemukan makna hidup, yang berarti menjadi manusia paripurna, akan mengalami hal-hal sebagai berikut :
1. Sadar akan keberadaan dan perannya di sini, saat ini dan seperti ini.
2. Cenderung dapat memahami dan mengerti semua peristiwa kehiduoan sesuai dengan situasi yang ada di sini, saat ini dan seperti ini.
3. Menghormati dan menghargai orang lain, sesuai apa adanya.
4. Memandang kebenaran itu relatif tergantung sudut pandang masing-masing orang sesuai tingkat kesadarannya.
5. Berlaku jujur, tulus apa adanya. Pikiran, perasaan dan tindakan selalu sinkron.
6. Mengutamakan kedamaian dan keharmonisan dalam hidup bersama, menghindari pertenrangan.
7. 'Ngalah, ngalih, ngalas, ngadem', bila terjadi hal yang dapat menimbulkan pertentangan, maka akan mengalah, menghindar, menjauhi dan mencari kedamaian.
8. Membawa damai, bahagia dan sukacita bagi sekelilingnya.
9. Adanya welas asih bagi sesama dan seluruh isi semesta serta semesta.

Bilamana manusia sudah menemukan yang dicari, maka segalanya dianggap ''sampah'',  artinya tidak lagi diperlukan. Hanya dipakai atau digunakan sebagai layaknya manusia yang masih ada di dunia fana. Hanya sebagai ''sandangan'' atau pakaian agar tetap pantas disebut manusia normal. ''Nganggo agem-ageming manungso'' Karena yang ada dalam dirinya hanya 'welas asih' yang tiada batasnya. Monggo menggali terus dalam diri dan temukan makna kehidupan, maka yang ada hanya lah damai dan bahagia, yang lain lewat. Salam waras.

Mino,  14  Desember 2023
Rahayu. Rahayu, Rahayu
Kusumo Pawiro Danu Atmojo Jayadiningrat

Postingan populer dari blog ini

':RAHAYU NIR ING SAMBIKALA'

':RAHAYU NIR  ING SAMBIKALA' Suatu saat ketika pergi ke suatu desa yang agak pelosok di daerah Yogya untuk bertemu dengan seorang teman, saya mendapat petunjuk atau ''ancar-ancar'' letak rumahnya. Sesampai di daerah tersebut, karena memang belum tahu wilayah dimaksud, maka untuk meyakinkan, kemudian mendatangi suatu rumah yang kebetulan sedang ada beberapa orang duduk-duduk di teras bercerita. Dengan menggunakan bahasa Jawa, saya menyapa: ''Kulo Nuwun, nyuwun sewu, badhe tanglet, dalemipun pak... menika ingkang pundi?'' . Terjemahannya ''Permisi, maaf mengganggu, mau bertanya, rumahnya pak...itu yang sebelah mana?' Salah satu bapak yang  duduk di depan kemudian menunjuk salah satu rumah bercat biru, tiga rumah dari tempat tersebut. Kemudian salah salah satu bapak yang lain nyelutuk:'' Wah... Saking nagari, njeh? Ketawis saking ngendikane, mlipis.': terjemahannya ''Wah ... dari kota, ya? Kelihatan dari gaya bicara...

ALAM SEMESTA 'KITAB' TERBUKAx

ALAM SEMESTA 'KITAB' TERBUKA Mengamati kejadian di media sosial akhir-akhir ini, di mana terjadi saling klaim bahwa keyakinan atau kepercayaannya yang  paling asli dan paling benar, menimbulkan pertanyaan besar apakah Sang Pencipta yang disebut 'Tuhan' itu ada banyak sesuai versi masing-masing keyakinan kepercayaan.  Jangan-jangan 'Tuhan' itu narasi manusia yang memang memiliki daya khayal tinggi, dalam mencari jawab atas apa yang tidak diketahui atau di luar nalar manusia lalu disebut 'Tuhan'.  Bahkan belum bertemu pun sudah dapat memerinci sifat-sifat 'Tuhan' dan ciri-ciri bahwa ini karya 'Tuhan'. Bahkan 'Tuhan' direduksi seperti manusia bisa marah, dendam, iri, suka menguji, dan menghukum manusia, tapi juga maha kasih dan maha segalanya. Manusia yang sadar dan tidak mau diindotrinasi begitu saja tentu akan bertanya apakah 'Tuhan' yang diklaim paling asli, paling benar itu kah 'Tuhan' yang sebenarnya atau hanya ...

''SUGIH TANPO BONDHO''

 ''SUGIH TANPO BONDHO'' Mungkin  ada diantara kita yang menyalah artikan falsafah Jawa 'Sugih tanpo bondho'' yang terjemahannya :'Kaya tanpa harta'', bahwa kaya itu tidak harus memiliki harta. Pertanyaannya kaya yang bagaimana kalau tidak berharta? Orang kaya pasta ada hartanya. Harta adalah bentuk dari kekayaan seseorang, jadi tidak relevan kalau kaya tanpa harta. Namun perlu digali lebih dalam makna Filosofi tersebut. Filosofi ''sugih tanpo bondho'' muncul di latar belakangi oleh situasi pada zaman itu, yaitu di   masa penjajahan, di mana banyak rakyat yang menderita, secara ekonomi. Sebagai orang yang peduli pada kaum kecil, maka untuk memberi dukungan moril agar rakyat kuat menghadapi situasi tersebut lahir falsafah tersebut, yakni falsafah '''sugih tanpo bondho'' yang "'memiliki arti Kaya Tanpa Harta. Karangan sang kakak. dari Ibu Kartini yaitu RM Sosrokartono.''' Falsafah ini menunj...