Langsung ke konten utama

PENDEKAR DARI PUNCAK MERAPI (0108)

Cerita Bersambung (CerBung)

PENDEKAR DARI PUNCAK MERAPI (0108)
Oleh: Ki Kusumo P.D.A.J.

Bekel Taruno yang mendapat laporan tentang kejadian penyerangan di hutan Karangasem segera memerintahkan beberapa prajurit ''telik sandi'' untuk memperkuat penjagaan pembangunan tempat pemberhentian. Situasi penyerangan dan berbagai gangguan dalam proses penyiapan jalur dan perpindahan sudah diperhitungkan dengan melibatkan banyak pihak, tertutama dari pergutuan ilmu kanuragan. Jati Pragolo dan Jati Pranomo yang bertugas mengawal pamannya selalu mendampingi kemanapun Bekel Taruno bertugas. Demikian pula di saat kunjungan ke hutan Karangasem, mereka bertiga beserta prajurit yang akan ditempatkan di hutan Karangasem, pagi-pagi benar sudah bersiap untuk berangkat. Meteka tidak mengenakan pakaian keprajuritan tetapi menyamar sebagai pedagang gerabah yang membawa berbagai kebutuhan yang diperlukan di tempat perhentian. Juga membawa peralatan pertanian cangkul, sabit, garu dll 

Perjalanan dari Kotaraja ke hutan Karangasem tidak begitu jauh, bisa ditempuh tiga empat hari saja, jalan keluar dari Kotaraja sudah cukup baik. Daerah yang cukup berat adalah hutan Jombor ywng masih lebat dan banyak binatang liar serta gerombolan perampok yang bermukim di wilayah tersebut. Untung saja jalur tersebut sudah dibuka, sehingga jalan sudah bisa dilewati kuda dan pedati. Rombongan Bekel Taruno berjalan dengan agak cepat, dan ketika memasuki hutan Jombor baru mereka berjalan lambat karena jalan memang baru dibuka sehingga belum begitu baik. Kadang harus menghindari pohon tumbang atau batu yang belum tuntas disingkirkan, namun hal tersebut tidak menjadi masalah bagi para prajurit 'telik sandi'. Ketika hari sudah menjelang siang, mereka mencari tempat istirahat untuk menikmati bekal yang ada.

Selesai makan siang mereka masih beristirahat memberi kesempatan kuda-kuda mereka makan rumput. Bekel Taruno yang didampingi si kembar bercerita kalau wilayah hutan Jombor ini masih rawan karena itu harus tetap waspada. Di wilayah ini bila dikembangkan pemukiman penduduk selalu diganggu oleh gerombolan perampok sehingga pemukiman ditinggalkan karena tidak aman. Padahal tanah di sekitar hutan Jombor sangat subur, namun karena jauh dari Kotaraja, faktor keamanan kurang terjamin. Pihak kerajaan sebelum pemerintahan sekarang sudah beberapa kali berusaha, dengan harapan wilayah ini menjadi lumbung pangan. Hanya keamanan yang kurang terjamin dan terjadinya pemindahan kekuasaan yang tidak melanjutkan program sebelumnya menjadikan rencana besar daerah hutan Jombor sebagai lumbung pangan tidak berlanjut.  Urusan kesejahteraan rakyat ditinggal, yang ada hanya intrik belaka.

Sedang asyiknya mereka bercerita, tiba-tiba datang seorang berjubah hitam dan bertopeng meluncur dari pepohonan turun tidak jauh dari mereka beristirahat. Betapa terkejutnya rombongan melihat hat tersebut, dengan sigap anak buah Bekel Taruno bergerak melindungi pimpinannya. Demikian pula si kembar yang bertugas sebagai pengawal pribadi. Melihat gerak pengawal tersebut terdengar suara tawa berkepanjangan dari mauusia bertopeng sambil berkata: ''Haa ..... Taruno .... Taruno .... Kamu seperti anak kecil yang butuh perlindungan ..... haaa ....''
Melihat orang bertopeng tersebut, Bekel Taruno dan si kembar jadi ingat peristiwa penyusupan yang dilakukan di rumah Bekel Taruno beberapa waktu yang lalu. Manusia bertopeng lari menghilang setelah kepergok oleh si kembar. Dengan sedikit terheran karena merasa tidak pernah bermusuhan, Bekel Taruno menjawab: ''Apa pedulimu .... Ada urusan apa kamu melakukan penyusupan di rumahku .... dan sekarang mengganggu kami yang sedang beristirahat!''

'''Haa ..... Kamu masih ingat peristiwa itu .... haaaa ....Aku tidak ada urusan denganmu Taruno ..... tetapi berurusan dengan apa yang kamu lakukan .... haaaa ....'' Manusia bertopeng berkata sekenanya. Dalam hati Bekel Taruno mengumpat, tidak berurusan dengan aku tetapi berurusan dengan apa yang aku lakukan, itu sama saja berurusan dengan aku. Lalu Bekel Taruno masih dengan sabar menjawab: ''Ki sanak .... apa sebenarnya yang Ki sanak maksudkan?'' Manusia bertopeng tidak menjawab, tetapi dia mengambil paser dari balik jubah dan langsung melemparkan ke arah Bekel Taruno, dengan sigap Jati Pragolo menggunakan tombak pendek di tangannya menangkis paser tersebut, sedangkan Jati Pranomo meloncat menyerang manusia bertopeng.

Bersambung ....
SELAMAT SORE. TETAP SEMANGAT 

Postingan populer dari blog ini

':RAHAYU NIR ING SAMBIKALA'

':RAHAYU NIR  ING SAMBIKALA' Suatu saat ketika pergi ke suatu desa yang agak pelosok di daerah Yogya untuk bertemu dengan seorang teman, saya mendapat petunjuk atau ''ancar-ancar'' letak rumahnya. Sesampai di daerah tersebut, karena memang belum tahu wilayah dimaksud, maka untuk meyakinkan, kemudian mendatangi suatu rumah yang kebetulan sedang ada beberapa orang duduk-duduk di teras bercerita. Dengan menggunakan bahasa Jawa, saya menyapa: ''Kulo Nuwun, nyuwun sewu, badhe tanglet, dalemipun pak... menika ingkang pundi?'' . Terjemahannya ''Permisi, maaf mengganggu, mau bertanya, rumahnya pak...itu yang sebelah mana?' Salah satu bapak yang  duduk di depan kemudian menunjuk salah satu rumah bercat biru, tiga rumah dari tempat tersebut. Kemudian salah salah satu bapak yang lain nyelutuk:'' Wah... Saking nagari, njeh? Ketawis saking ngendikane, mlipis.': terjemahannya ''Wah ... dari kota, ya? Kelihatan dari gaya bicara...

ALAM SEMESTA 'KITAB' TERBUKAx

ALAM SEMESTA 'KITAB' TERBUKA Mengamati kejadian di media sosial akhir-akhir ini, di mana terjadi saling klaim bahwa keyakinan atau kepercayaannya yang  paling asli dan paling benar, menimbulkan pertanyaan besar apakah Sang Pencipta yang disebut 'Tuhan' itu ada banyak sesuai versi masing-masing keyakinan kepercayaan.  Jangan-jangan 'Tuhan' itu narasi manusia yang memang memiliki daya khayal tinggi, dalam mencari jawab atas apa yang tidak diketahui atau di luar nalar manusia lalu disebut 'Tuhan'.  Bahkan belum bertemu pun sudah dapat memerinci sifat-sifat 'Tuhan' dan ciri-ciri bahwa ini karya 'Tuhan'. Bahkan 'Tuhan' direduksi seperti manusia bisa marah, dendam, iri, suka menguji, dan menghukum manusia, tapi juga maha kasih dan maha segalanya. Manusia yang sadar dan tidak mau diindotrinasi begitu saja tentu akan bertanya apakah 'Tuhan' yang diklaim paling asli, paling benar itu kah 'Tuhan' yang sebenarnya atau hanya ...

''SUGIH TANPO BONDHO''

 ''SUGIH TANPO BONDHO'' Mungkin  ada diantara kita yang menyalah artikan falsafah Jawa 'Sugih tanpo bondho'' yang terjemahannya :'Kaya tanpa harta'', bahwa kaya itu tidak harus memiliki harta. Pertanyaannya kaya yang bagaimana kalau tidak berharta? Orang kaya pasta ada hartanya. Harta adalah bentuk dari kekayaan seseorang, jadi tidak relevan kalau kaya tanpa harta. Namun perlu digali lebih dalam makna Filosofi tersebut. Filosofi ''sugih tanpo bondho'' muncul di latar belakangi oleh situasi pada zaman itu, yaitu di   masa penjajahan, di mana banyak rakyat yang menderita, secara ekonomi. Sebagai orang yang peduli pada kaum kecil, maka untuk memberi dukungan moril agar rakyat kuat menghadapi situasi tersebut lahir falsafah tersebut, yakni falsafah '''sugih tanpo bondho'' yang "'memiliki arti Kaya Tanpa Harta. Karangan sang kakak. dari Ibu Kartini yaitu RM Sosrokartono.''' Falsafah ini menunj...