Langsung ke konten utama

PENDEKAR DARI PUNCAK MERAPI (0104)

Cerita Bersambung (CerBung)

PENDEKAR DARI PUNCAK MERAPI (0104)
Oleh: Ki Kusumo P.D.A.J

Untuk mengamankan jalur menuju Tamelang telah ditugaskan pasukan 'telik sandi' yang terdiri dari tokoh-tokoh ilmu kanuragan yang bersedia bergabung demi kemajuan rakyat dan ketenangan serta kedamaian masyarakat. Banyak tokoh berpengaruh bergabung karena sudah ''muak'' dengan perilaku yang hanya mementingkan jabatan, kekuasaan dan harta tanpa peduli kesejahteraan masyarakat. Bercampur aduknya permasalahan di Kotaraja semakin mendorong orang mencari tempat yang aman. Selain semakin meningkatnya tindak kriminalitas di Kotaraja, banyak sumberdaya yang mulai beralih ke wilayah yang menjadi jalur menuju Tamelang. Mereka mendirikan berbagai sarana yang dibutuhkan oleh mereka yang melakukan eksodus atau perpindahan.

Propaganda untuk mencari kehidupan yang lebih baik terus berlangsung di Kotaraja, bahkan mulai merambah ke daerah lain. Semakin banyak orang tertarik untuk berpindah mendapatkan kesempatan membangun masa depan. Apalagi bencana terus berlangsung yang mengakibatkan orang kawatir dengan keadaan. Selain itu, semakin banyak pula keonaran demu keonaran terjadi akibat kurangnya keamanan, sehingga banyak orang memanfaatkan keadaan untuk kepentingannya.
Pihak pemerintah kerajaan nampaknya tidak ambil pusing dengan hal tersebut, mereka terus asyik dengan intrik yang ada. Situasi di luar istana sepertinya tidak menarik untuk dibicarakan, sehingga beberapa orang petinggi yang memiliki perhatian terhadap kepentingan rakyat satu persatu mulai mendukung kelompok yang menginginkan pindah membangun daerah lain yang kondisinya lebih baik.

Sementara itu di daerah hutan Karangasem yang akan menjadi tempat pemberhentian pertama setelah keluar dari Kotaraja telah terjadi penyerangan terhadap para pekerja yang sedang menyiapkan tempat pemberhentian. Secara tiba-tiba segerombolan orang yang menamakan diri Gagak Wetan memasuki tempat yang baru dibuka dan meminta para pekerja berhenti menebangi pohon karena wilayah tersebut ada dalam kekuasaan mereka. ''Kalian telah menebang pohon dan membuka hutan tanpa seizin kami .... hentikan kalau tidak ingin kepala kalian lepas dari tubuh kalian!!'' kata seseorang yang berikat kepala lawung, yang nampaknya pemimpin gerombolan tersebut. Salah satu orang yang adalah lurah prajurit 'telik sandi'' maju ke depan dan berkata: ''Wilayah ini .... masih masuk wilayah kerajaan .... jadi kami berhak untuk membuka hutan ... kalian gerombolan yang tidak jelas .... jangan sok berkuasa!''

Mendapat tanggapan yang kurang menyenangkan pimpinan gerombolan tambah marah dan memerintahkan anak buahnya untuk menyerang. Para pekerja yang mendapat serangan langsung meninggalkan pekerjaan dan lari mencari perlindungan, sedangkan pasukan ''telik sandi'' yang menyamar sebagai pekerja langsung memberikan perlindungan pada para pekerja dan siap menghadapi gerombolan penyerang. Terjadi beberapa lingkaran pertempuran di wilayah tersebut, jumlah penyerang dan pasukan ''telik sandi'' yang menyamar yang direkrut dari kalangan perguruan ilmu kanuragan seimbang, mereka menghadapi penyerang dengan sigap. Hal tersebut membuat para penyerang terkejut, perkiraan mereka salah, ternyata yang terlihat seperti pekerja biasa begitu diserang bukannya takut malahan bersiap dengan berbagai jenis senjata yang sebelumnya disembunyikan.

Menghadapi gerombolqn penyerang yang hanya mengandalkan kemampuan ilmu kanuragan ''cethek'' dan beraninya mengeroyok tidaklah sulit bagi pasukan ''telik sandi''. Hanya saja diantara para penyerang  terdapat beberapa orang yang memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi, selain pimpinannya terdapat beberapa anak buah yang memimpin dalam lingkaran pertempuran juga tidak boleh diremehkan kemampuan ilmu kanuragannya. Kondisi lapangan yang masih dipenuhi dengan pohon-pohon yang baru ditumbangkan untuk membuka lahan pemukiman xukup menyulitkan bagi mereka untuk bertempur dalam kelompok, sehingga perkelahian menjadi satu lawan satu atau satu melawan dua orang. Mereka berloncatan diantara pohon roboh dan akar pohon yang terserak. Bunyi senjata saling beradu mulai terdengar, begitu pula teriakan penyemangat menggema 

Bersambung ....
SELAMAT SORE. TETAP SEMANGAT 

Postingan populer dari blog ini

':RAHAYU NIR ING SAMBIKALA'

':RAHAYU NIR  ING SAMBIKALA' Suatu saat ketika pergi ke suatu desa yang agak pelosok di daerah Yogya untuk bertemu dengan seorang teman, saya mendapat petunjuk atau ''ancar-ancar'' letak rumahnya. Sesampai di daerah tersebut, karena memang belum tahu wilayah dimaksud, maka untuk meyakinkan, kemudian mendatangi suatu rumah yang kebetulan sedang ada beberapa orang duduk-duduk di teras bercerita. Dengan menggunakan bahasa Jawa, saya menyapa: ''Kulo Nuwun, nyuwun sewu, badhe tanglet, dalemipun pak... menika ingkang pundi?'' . Terjemahannya ''Permisi, maaf mengganggu, mau bertanya, rumahnya pak...itu yang sebelah mana?' Salah satu bapak yang  duduk di depan kemudian menunjuk salah satu rumah bercat biru, tiga rumah dari tempat tersebut. Kemudian salah salah satu bapak yang lain nyelutuk:'' Wah... Saking nagari, njeh? Ketawis saking ngendikane, mlipis.': terjemahannya ''Wah ... dari kota, ya? Kelihatan dari gaya bicara...

ALAM SEMESTA 'KITAB' TERBUKAx

ALAM SEMESTA 'KITAB' TERBUKA Mengamati kejadian di media sosial akhir-akhir ini, di mana terjadi saling klaim bahwa keyakinan atau kepercayaannya yang  paling asli dan paling benar, menimbulkan pertanyaan besar apakah Sang Pencipta yang disebut 'Tuhan' itu ada banyak sesuai versi masing-masing keyakinan kepercayaan.  Jangan-jangan 'Tuhan' itu narasi manusia yang memang memiliki daya khayal tinggi, dalam mencari jawab atas apa yang tidak diketahui atau di luar nalar manusia lalu disebut 'Tuhan'.  Bahkan belum bertemu pun sudah dapat memerinci sifat-sifat 'Tuhan' dan ciri-ciri bahwa ini karya 'Tuhan'. Bahkan 'Tuhan' direduksi seperti manusia bisa marah, dendam, iri, suka menguji, dan menghukum manusia, tapi juga maha kasih dan maha segalanya. Manusia yang sadar dan tidak mau diindotrinasi begitu saja tentu akan bertanya apakah 'Tuhan' yang diklaim paling asli, paling benar itu kah 'Tuhan' yang sebenarnya atau hanya ...

''SUGIH TANPO BONDHO''

 ''SUGIH TANPO BONDHO'' Mungkin  ada diantara kita yang menyalah artikan falsafah Jawa 'Sugih tanpo bondho'' yang terjemahannya :'Kaya tanpa harta'', bahwa kaya itu tidak harus memiliki harta. Pertanyaannya kaya yang bagaimana kalau tidak berharta? Orang kaya pasta ada hartanya. Harta adalah bentuk dari kekayaan seseorang, jadi tidak relevan kalau kaya tanpa harta. Namun perlu digali lebih dalam makna Filosofi tersebut. Filosofi ''sugih tanpo bondho'' muncul di latar belakangi oleh situasi pada zaman itu, yaitu di   masa penjajahan, di mana banyak rakyat yang menderita, secara ekonomi. Sebagai orang yang peduli pada kaum kecil, maka untuk memberi dukungan moril agar rakyat kuat menghadapi situasi tersebut lahir falsafah tersebut, yakni falsafah '''sugih tanpo bondho'' yang "'memiliki arti Kaya Tanpa Harta. Karangan sang kakak. dari Ibu Kartini yaitu RM Sosrokartono.''' Falsafah ini menunj...