Langsung ke konten utama

ALAM SEMESTA 'KITAB' TERBUKAx

ALAM SEMESTA 'KITAB' TERBUKA

Mengamati kejadian di media sosial akhir-akhir ini, di mana terjadi saling klaim bahwa keyakinan atau kepercayaannya yang  paling asli dan paling benar, menimbulkan pertanyaan besar apakah Sang Pencipta yang disebut 'Tuhan' itu ada banyak sesuai versi masing-masing keyakinan kepercayaan.  Jangan-jangan 'Tuhan' itu narasi manusia yang memang memiliki daya khayal tinggi, dalam mencari jawab atas apa yang tidak diketahui atau di luar nalar manusia lalu disebut 'Tuhan'.  Bahkan belum bertemu pun sudah dapat memerinci sifat-sifat 'Tuhan' dan ciri-ciri bahwa ini karya 'Tuhan'. Bahkan 'Tuhan' direduksi seperti manusia bisa marah, dendam, iri, suka menguji, dan menghukum manusia, tapi juga maha kasih dan maha segalanya. Manusia yang sadar dan tidak mau diindotrinasi begitu saja tentu akan bertanya apakah 'Tuhan' yang diklaim paling asli, paling benar itu kah 'Tuhan' yang sebenarnya atau hanya narasi turun-temurun melalui kisah yang dituturkan atau dituliskan? Banyak kitab yang diyakini oleh yang mempercayai bahwa kitabnya  yang asli,  yang lain tidak asli. Padahal secara garis besar isinya mirip yaitu mengajarkan moral kebaikan, hanya dengan versi yang berbeda. Memprihatinkan memang perdebatan tentang 'Tuhan' yang tidak ada ujung pangkal, saling klaim dan saling menyalahkan antara satu dan yang lain. Namun bisa jadi ini cara semesta berevolusi untuk semakin membuka pengetahuan manusia tentang 'Tuhan' yang hakiki bukan 'Tuhan' yang narasi.

Sebenarnya banyak kitab yang ditulis oleh para leluhur suatu bangsa yang berisi beragam petunjuk tentang "Tuhan' juga tata kehidupan yang menyangkut moral, hukum dan sebagainya. Tetapi karena kitab tersebut hanya beredar atau digunakan di kalangan terbatas, maka kitab yang juga memuat ajaran luhur tidak banyak menjadi perdebatan. Bamyak orang beranggapan bahwa kitabnya yang benar, sehingga terdoktrin dan tidak bersedia membuka diri untuk mempelajari berbagai kitab yang ditulis oleh para leluhur. Pikiran dan hatinya sudah tertutup, tidak menerima kebaikan dari pihak lain. Manusia seperti ini cenderung intoleran dan berpandangan sempit, orang mengatakan 'seperti katak dalam tempurung', karena hanya meyakini kitab nya yang benar, maka tidak pernah bersedia menerima kebenaran dari kitab yang diyakini orang lain. Bahkan membanding-bandingkan kitabnya dengan kitab yang lain hanya untuk mencari kesalahan kitab yang diyakini orang lain. Cara berpikir dengan membandingkan demikian tidak akan membuka wawasan, karena membandingkan didalamnya harus termasuk keberanian memahami dan mengakui kebenaran dan kebaikan kitab-kitab yang diyakini oleh orang lain, bukan mencari kesalahan dan keburukan semata. Kedewasaan berpikir ilmiah dan kritis perlu dikedepankan apabila ingin memiliki pikiran terbuka dan maju. Keterbukaan dan keberanian mengakui kebenaran dan kesalahan dengan menggunakan cara ilmiah dan akal sehat akan semakin memperkaya wawasan, sehingga tidak mudah melakukan tindakan yang intoleran dan merendahkan yang lain. Sebab dalam perjalanan kehidupan ini manusia akan terus mencari 'Tuhan' yang hakiki sampai bertemu disaat kematian menjemput.

Ketidak tepatan berpikir terbesar manusia adalah ketika menganggap kitabnya adalah kitab  paling sempurna, sehingga menafikkan kebenaran yang ada di kitab lain, selain kitabnya lah yang paling sempurna. Ini picik namanya. Namun demikian bukan berarti itu salah, karena memang baru sampai pada tingkat itu pemahaman tentang kitab kehidupan. Bersyukur kalau semesta membantu untuk membuka wawasan, tetapi kalau pun diri sendiri belum menemukan, bukan berarti tidak akan bertemu dengan 'Tuhan' nya, tetap akan bertemu di saat tarikan nafas terakhir nanti. Kenapa yang belum mampu membuka diri disebut picik? Hal tersebut disebabkan kehiduoan ini begitu luas dan beragam, ilmu pengetahuan berkembang sesuai perjalanan evolusi manusia dan alam semesta.
Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang merupakan bentuk evolusi semesta, secara perlahan membuka wawasan manusia melalui internet dan media sosial yang sangat informatif, meskipun ada juga hoaxnya.  Juga penemuan-penemuan ilmiah yang menjawab fenomena yang sebelumnya belum terbuka, karena yang tersembunyi pada saatnya akan terbuka. Semesta dengan caranya sendiri telah menunjukkan evolusi pengetahuan yang sangat luar biasa, yang perlahan menuntun manusia untuk lebih bijak dalam memandang sejarah dan tidak mengkultuskan seseorang,  bangsa maupun kitab. Evolusi akan terus terjadi dan berlangsung, karena kesempurnaan itu tidak terbatas selama semesta masih ada. Manusia akan melewati masa, dimana manusia tidak lagi melihat satu kitab yang tentu juga memiliki keterbatasan dalam hal penulisan, zaman dan juga pengetahuan. Manusia tidak lagi mengagungkan atau mengkultuskan orang atau satu kitab, tetapi manusia akan membuat kitabnya sendiri dengan berdialog dengan semesta. Masing-masing dapat menggunakan pengalaman menemukan kebenaran melalui berbagai peristiwa kehidupan, teladan tokoh, maupun tulisan yang dibuat seseorang pada zamannya, sehingga kebenaran yang didapat tidak terbatas pada satu dua kitab saja atau satu pengetshuan saja. Semesta akan menuntun manusia melalui evolusi semesta dengan segala dinamikanya untuk menyempurnajan dan membaharui pengetahuan.

Keyakinan kepercayaan di Nusantara, khususnya Jawa memiliki pemahaman tentang warisan leluhur yang disebut dengan kitab yang terdiri dari "kitab garing' dan 'kitab teles'.  Adapun yang disebut 'kitab garing' adalah tulisan manusia hasil olah pikir dan refleksi permenungan kehidupan  yang diwujudkan dalam tulisan yang dapat dijadikan petunjuk bagi orang lain dalam kehidupannya. Sedangkan  'kitab teles' adalah segala sesuatu yang ada di semesta termasuk diri kita sendiri, yang masih harus didalami dan direfleksi oleh masing-masing manusia dalam menemukan petunjuk kehiduoan untuk dirinya.
Dari kedua pengertian kitab tersebut kita menjadi paham bahwa mereka yang mampu membuat kitab kehidupan sudah menemukan 'Tuhan' untuk dirinya dan menulismya untuk dapat menjadi salah satu alat bantu pendukung bagi yang membaca untuk mengikuti caranya, tetapi kitab tersebut bukanlah satu-satunya, karena masih banyak kitab lain yang juga ditulis oleh mereka yang telah menemukan 'Tuhan' dalam perjalanan kehidupannya. Selain sebagai bentuk ungkapan perjumpaan pribadi pada diri dan pada zamannya, harus pula dipahami bahwa apa yang ditulis sebagai 'kitab garing' adalah pengalaman pribadi. Orang lain boleh mengikuti juga boleh tidak mengikuti, tergantung  masing-masing pribadi. Bisa jadi seseorang mempelajari 'kitab teles' dan menemukan 'Tuhan' secara pribadi dalam perjalanan hidupnya.

Dengan makin terbukanya diri terhadap kebenaran yang ditemukan dalam puzzel puzzel kehidupan, maka manusia akan menghubungkan menjadi suatu kebenaran yang utuh. Meskipun harus tetap disadari bahwa yang sekarang disebut kebenaran atau kesempurnaan, suatu saat di masa depan akan muncul kebenarsn atau kesempurnaan baru. Bagi yang masih bersikukuh dengan hanya berpegang pada satu kitab sebagai sumber kebenaran, maka suka tidak suka akan tergilas dengan evolusi semesta yang menyangkut segala aspek kehidupan untuk membuka tabir-tabir yang sebelumnya tidak diketahui atau tidak dipahami manusia atau masih tersembunyi. Bersikap terbuka dan menyesuaikan dan mengikuti perkembangan zaman yang pada masanya nanti sarat dengan AI (Artificial Intellegence) atau mesin cerdas adalah pilihan terbaik untuk tetap bertahan hidup dalam proses evolusi.
Dalam hal ini manusia dapat menjadikan alam semesta sebagai kitab terbuka yang tidak akan pernah selesai dan sempurna membaca, mempelajari, mendalami, meneliti fenomena yang ada sampai sepanjang hayat dikandung badan. Belajar, Belajar dan Belajar dari kitab kehidupan yakni alam semesta untuk menemukan kebenaran dan kesempurnaan. Salam waras.

Mino, 14 September 2023
Rahayu. Rahayu, Rahayu
Kusumo Pawiro Danu Atmojo Jayadiningrat

Postingan populer dari blog ini

':RAHAYU NIR ING SAMBIKALA'

':RAHAYU NIR  ING SAMBIKALA' Suatu saat ketika pergi ke suatu desa yang agak pelosok di daerah Yogya untuk bertemu dengan seorang teman, saya mendapat petunjuk atau ''ancar-ancar'' letak rumahnya. Sesampai di daerah tersebut, karena memang belum tahu wilayah dimaksud, maka untuk meyakinkan, kemudian mendatangi suatu rumah yang kebetulan sedang ada beberapa orang duduk-duduk di teras bercerita. Dengan menggunakan bahasa Jawa, saya menyapa: ''Kulo Nuwun, nyuwun sewu, badhe tanglet, dalemipun pak... menika ingkang pundi?'' . Terjemahannya ''Permisi, maaf mengganggu, mau bertanya, rumahnya pak...itu yang sebelah mana?' Salah satu bapak yang  duduk di depan kemudian menunjuk salah satu rumah bercat biru, tiga rumah dari tempat tersebut. Kemudian salah salah satu bapak yang lain nyelutuk:'' Wah... Saking nagari, njeh? Ketawis saking ngendikane, mlipis.': terjemahannya ''Wah ... dari kota, ya? Kelihatan dari gaya bicara...

''SUGIH TANPO BONDHO''

 ''SUGIH TANPO BONDHO'' Mungkin  ada diantara kita yang menyalah artikan falsafah Jawa 'Sugih tanpo bondho'' yang terjemahannya :'Kaya tanpa harta'', bahwa kaya itu tidak harus memiliki harta. Pertanyaannya kaya yang bagaimana kalau tidak berharta? Orang kaya pasta ada hartanya. Harta adalah bentuk dari kekayaan seseorang, jadi tidak relevan kalau kaya tanpa harta. Namun perlu digali lebih dalam makna Filosofi tersebut. Filosofi ''sugih tanpo bondho'' muncul di latar belakangi oleh situasi pada zaman itu, yaitu di   masa penjajahan, di mana banyak rakyat yang menderita, secara ekonomi. Sebagai orang yang peduli pada kaum kecil, maka untuk memberi dukungan moril agar rakyat kuat menghadapi situasi tersebut lahir falsafah tersebut, yakni falsafah '''sugih tanpo bondho'' yang "'memiliki arti Kaya Tanpa Harta. Karangan sang kakak. dari Ibu Kartini yaitu RM Sosrokartono.''' Falsafah ini menunj...