Langsung ke konten utama

PENDEKAR DARI PUNCAK MERAPI (0095)

Cerita Bersambung (CerBung)

PENDEKAR DARI PUNCAK MERAPI (0095)
Oleh: Ki Kusumo P.D.A.J

Gendis sebagai orang muda yang penuh semangat bersedia menjalani tugas tersebut, karena tugas tersebut sangat menantang. Bibi Wardani hanya geleng-geleng kepala melihat semangat anaknya, sebagai orang tua hanya bisa 'tut wuri handayani' yakni memberi dorongan, mengarahkan dan tentu saja mendoakan. Tekad Gendis unruk mengabdikan diri dengan menjadi prajurit wanita, mendorong Garuda anak Bekel Taruno untuk lebih bersemangat dalam belajar ilmu kanuragan. Selama ini Garuda oleh Bekel Taruno telah digembleng dengan belajar di pedepokan di Kotaraja. Namun untuk ke depan agar lebih mandiri, Garuda akan dikirim ke Kiskendo di perguruan Walang Kinasih yang diasuh oleh kakak ipar dan kakek gueu. Garuda setuju dengan rencana ayahnya, tetapi ibu nya masih keberatan. Bekel Taruno terus berusaha membujuk istrinya agar merelakan anak semata wayangnya dapat memperoleh bimbingan ilmu kehidupan dqn ilmu kanuragan seperti halnya kedua keponakan kembarnya.

Sementara itu Pandu dan Ningrum melanjutkan perjalanan ke Kotaraja melalui sisi timur ganung Merapi. Mereka berpisah dengan rombongan Ki Joko dan Bapa Jati setelah sebelumnya menyelesaikan tugas dari nenek guru Nyi Kedasih, mengembalikan marwah perguruan Lowo Putih. Rombongan Ki Joko kembali ke Kiskendo bersana Rara Selasih karena tidak mungkin kembali ke Loh Watu yang menurut informasi  keadaan desa sudah hancur terkena letusan gunubg Merapi. Selain itu, tidak mungkin mencari Ki Seta yang tempat pengungsiannya tidak diketahui, hanya berpesan pada orang yang kenal Ki Seta kalau bertemu agar menyusul ke Kiskendo. Situasi memang cukup kacau dengan adanya letusan dahsyat gunung Merapi, banyak orang kehilangan tempat tinggal dan keluarga karena mengungsi mencari selamat. Bencana memang mendatangkan banyak keprihatinan, apalagi kalau aparat tidak tanggap akan situasi tersebut, tentu akan menimbulkan banyak masalah.

Pandu dan Ningrum secara adat sudah dinikahkan oleh kedua orang tuanya, Ki Joko dan Bapa Jati sehingga mereka dapat jalan berdua. Sampai di tepi hutan Selo yang biasa disebut hutan larangan, mereka beristirahat setelah menempuh perjalanan seharian. Mereka mencari pohon yang tinggi dan aman untuk beristirahat, sebagai pengembara dan pendekar muda, mereka sudah terbiasa dengan situasi tersebut. Di saat mereka beristirahat, telinga yang sudah terlatih mendengar langkah kaki mendekat. Pandu segera memberi kode kepada Ningrum untuk memperhatikan apa yang terjadi. Tampak di bawah seorang laki-laki tua berambut putih yang digelung ke atas berjalan mwnuju pohon di mana Pandu dan Ningrum beristirahat. Tanpa sadar kalau diamati dua pasang mata yang memperhatikan gerak-geriknya, kakek itu lalu duduk tepat di pohon yang menjadi tempat istiraha tersebut.
Pandu dan  Ningeum hanya saling berpandangan melihat gerak-gerik kakek di bawah, mereka berdua hanya bisa memakai bahasa isyarat agar kakek tersebut tidak mendengar suara mereka.

Setelah duduk bersila di atas akar pohon, kakek tersebut mulai mendengkur tertidur. Pandu dan Ningrum hanya tertegun, bagaimana mungkin begitu duduk langsung tertidur, kelihatan kelelahan kakek tersebut. Mereka berduapun berusaha tidur agar tidak mengganggu kakek tersebut.
Tetapi mereka tetap tidak bisa tertidur dengan situasi seperti itu. Pergerakan sedikit bisa menimbulkan suara yang kemungkinan akan mendatangkan  kecurigaan si kakek tersebut.  Setelah beberapa waktu tertidur, kakek tersebut terbangun,. Pandu memberi isyarat pada Ningrum untuk mengamati apa yang dilakukan kakek tersebut. Ningrum pun mencoba memperhatikan, untung ada sinar rembulan yang menerobos dedaunan sehingga pergerakan kakek tersebut sangat jelas. Mereka berdua curiga, apakah kakek tersebut tahu kalau mereka tidur di atas pohon, karena terlihat si kakek melihat-lihat ke atas, seolah-olah mengamati sesuatu. Untung saja Pandu membuat tempat istirahatnya tertutup rimbunnya pohon, dengan demikian tidak terlalu terlihat dari bawah.

Setelah melihat ke atas si kakek berkeliling mengitari pohon sambil memperhatikan kiri-kanan. Nampaknya si kakek merasa curiga ada yang mengamati, sehingga ia dengan sedikit mengendap melihat ke sana kemari. Selesai menyelidiki sekelilungnya si kakek kembali duduk, kali ini ia tidak tidur tetapi mendekapkan ke dua telapak tangan di dada dan menarik nafas panjang dan mengeluarkan dengan pelan-pelan, dalam posisi meditasi. Pandu dan Ningrum heran dengan si kakek, kalau dilihat dari penampilannya seperti orang tua kebanyakan yang mulai renta, tetapi sepertinya orang yang memiliki ilmu, dan kenapa untuk apa ia berjalan sendiri di hutan. Pertanyaan itu menggelayut di pikiran Pandu dan Ningrum, sambil terus mengamati apa yang akan dilakukan si kakek selanjutnya

Bersambung ....
SELAMAT SORE. TETAP SEMANGAT 

Postingan populer dari blog ini

':RAHAYU NIR ING SAMBIKALA'

':RAHAYU NIR  ING SAMBIKALA' Suatu saat ketika pergi ke suatu desa yang agak pelosok di daerah Yogya untuk bertemu dengan seorang teman, saya mendapat petunjuk atau ''ancar-ancar'' letak rumahnya. Sesampai di daerah tersebut, karena memang belum tahu wilayah dimaksud, maka untuk meyakinkan, kemudian mendatangi suatu rumah yang kebetulan sedang ada beberapa orang duduk-duduk di teras bercerita. Dengan menggunakan bahasa Jawa, saya menyapa: ''Kulo Nuwun, nyuwun sewu, badhe tanglet, dalemipun pak... menika ingkang pundi?'' . Terjemahannya ''Permisi, maaf mengganggu, mau bertanya, rumahnya pak...itu yang sebelah mana?' Salah satu bapak yang  duduk di depan kemudian menunjuk salah satu rumah bercat biru, tiga rumah dari tempat tersebut. Kemudian salah salah satu bapak yang lain nyelutuk:'' Wah... Saking nagari, njeh? Ketawis saking ngendikane, mlipis.': terjemahannya ''Wah ... dari kota, ya? Kelihatan dari gaya bicara...

ALAM SEMESTA 'KITAB' TERBUKAx

ALAM SEMESTA 'KITAB' TERBUKA Mengamati kejadian di media sosial akhir-akhir ini, di mana terjadi saling klaim bahwa keyakinan atau kepercayaannya yang  paling asli dan paling benar, menimbulkan pertanyaan besar apakah Sang Pencipta yang disebut 'Tuhan' itu ada banyak sesuai versi masing-masing keyakinan kepercayaan.  Jangan-jangan 'Tuhan' itu narasi manusia yang memang memiliki daya khayal tinggi, dalam mencari jawab atas apa yang tidak diketahui atau di luar nalar manusia lalu disebut 'Tuhan'.  Bahkan belum bertemu pun sudah dapat memerinci sifat-sifat 'Tuhan' dan ciri-ciri bahwa ini karya 'Tuhan'. Bahkan 'Tuhan' direduksi seperti manusia bisa marah, dendam, iri, suka menguji, dan menghukum manusia, tapi juga maha kasih dan maha segalanya. Manusia yang sadar dan tidak mau diindotrinasi begitu saja tentu akan bertanya apakah 'Tuhan' yang diklaim paling asli, paling benar itu kah 'Tuhan' yang sebenarnya atau hanya ...

''SUGIH TANPO BONDHO''

 ''SUGIH TANPO BONDHO'' Mungkin  ada diantara kita yang menyalah artikan falsafah Jawa 'Sugih tanpo bondho'' yang terjemahannya :'Kaya tanpa harta'', bahwa kaya itu tidak harus memiliki harta. Pertanyaannya kaya yang bagaimana kalau tidak berharta? Orang kaya pasta ada hartanya. Harta adalah bentuk dari kekayaan seseorang, jadi tidak relevan kalau kaya tanpa harta. Namun perlu digali lebih dalam makna Filosofi tersebut. Filosofi ''sugih tanpo bondho'' muncul di latar belakangi oleh situasi pada zaman itu, yaitu di   masa penjajahan, di mana banyak rakyat yang menderita, secara ekonomi. Sebagai orang yang peduli pada kaum kecil, maka untuk memberi dukungan moril agar rakyat kuat menghadapi situasi tersebut lahir falsafah tersebut, yakni falsafah '''sugih tanpo bondho'' yang "'memiliki arti Kaya Tanpa Harta. Karangan sang kakak. dari Ibu Kartini yaitu RM Sosrokartono.''' Falsafah ini menunj...