Cerita Bersambung (CerBung)
PENDEKAR DARI PUNCAK MERAPI (0093)
Oleh: Ki Kusumo P.D.A.J
Mendengar omongan Gendis yang sok mengatur, si brewok tambah marah dan berkata: ''Aku sumbat mulutmu yang lancang itu .... kami akan mengalahkan kalian berdua .... tidak ada taruhan .... jelas aku yang akan menang ..... haaaa haaaa....'' Mendapat jawaban seperti itu, Gendis kembali berulah: ''Kalau begitu .... aku yang memutuskan .... kalau kalian kalah .... kalian tidak boleh masuk pasar .... kalau melanggar .... kepala kalian yang jadi taruhannya .....hiiiii hiiiii ....'' Si brewok dan anak buahnya mendidih mendengar ucapan Gendis. Dan lagi kata Gendis lebih lanjut: ''Karena kalian masih muda .... maka kasihan ibuku .... biar aku yang menggantikan .... orang muda lawan orang muda .... sanggup!!!'' Bibi Wardani hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anaknya, tetapi ia sudah makhlum dan tahu kemampuan anaknya, maka ia pun minggir dan duduk di tambatan kuda.
Merasa diremehkan oleh seorang gadis remaja para berandalan benar-benar naik pitam dan maju serentak hendak mengeroyok Gendis, tetapi ketua berandalan mencegahnya sambil menggulung lengan bajunya bersiap untuk berkelahi. Bibi Wardani nampak duduk tenang melihat Gendis yang sudah bersiap dengan ajian tendangan bayangan, nampaknya Gendis akan membuat syok para berandalan pada ronde awal. Si brewok begitu percaya diri, maka ia pun langsung melayangkan tinju ke arah Gendis, yang tetap berdiri dengan kuda-kuda, tidak takut akan datangnya pukulan. Hanya kurang ''sekilan'' pukulan tersebut bersarang di muka Gendis, tetapi dengan enteng digesernya tubuh ke kiri, sambil kaki menerjang ke arah kaki si brewok, maka pukulan tersebut hanya mengenai angin dan si brewok terjungkal karena kakinya kena tendangan Gendis. Si brewok terjerembab dan mukanya langsung mencium kotoran sapi yang memang banyak di lapangan.
Si brewok benar-benar uring-uringan diperlakukan demikian oleh gadis remaja, di mana Gendis tertawa 'cekikikan' melihat si brewok tersungkur di kotoran sapi. Tanpa pikir panjang dengan muka masih berlepotan kotoran, si brewok mengangkat goloknya dan berlari menyerang Gendis yang masih berdiri dengan tenang. Sambaran golok si brewok yang diarahkan ke kepala Gendis sangat membahayakan nyawanya, tetapi dengan tenang Gendis hanya menggeser kaki ke samping, sehingga tubuhnya pun bergeser. Ayunan golok yang disertai dengan kemarahan yang luar biasa, kekuatannya menbawa si brewok tidak mampu lagi menahan keseimbangan karena tekanan ayunan tersebut hanya mengenai angin, mengakibatkan tubuhnya tidak lagi seimbang. Setelah menggeser kakinya, Gendis lalu menyorongkan kakinya menahan laju si brewok, mengakibatkan tubuh yang tidak seimbang tersebut kakinya menabrak kaki Gendis yang memang dihadangkan. Si brewok kembali jatuh terguling dan goloknya lepas dari genggamannya. Belum sampai berdiri tendangan yang cukup keras mengenai lambungnya. Terdengar jeritan panjang menandakan kesakitan luar biasa.
Begitulah kalau perkelahian dengan ilmu kanuragan yang tidak seimbang. Kemampuan para pencopet pemalak tersebut tidak seberapa, hanya nekad dan beraninya ''keroyokan'' sehingga bagi Gendis mereka bukan tandingannya. Melihat pimpinan mereka tersungkur dan mendapat perlakuan demikian, para pencopet pemalak twrsebut bersama maju menyerang Gendis dengan senjata. Tetapi sebelum sampai maju, ternyata Gendis sudah melekatkan pedangnya di leher si brewok yang masih tersungkur di tanah, sambil mengancam: ''Kalau berani menyerang .... leher juraganmu akan aku belah .... biar kepala lepas dari tubuhnya.'' Ancaman yang mengerikan tersebut membuat anak buah si brewok tertegun dan berhenti sambil memegang senjata. Belum sampai mereka tersadar, tahu-tahu sekelebat bayangan bergerak dan menjatuhkan senjata dari tangan mereka. Bibi Wardani yang menguasai ilmu kanuragan lowo putih meloncat seperti terbang menotok para penyerang sehingga senjata berjatuhan dan tangan mereka kesakitan.
Para penonton yang melihat dari kejauhan hanya melongo dan terkejut melihat ketangkasan kedua wanita yang baru mereka kenal. Tidak terpikir oleh mereka dua wanita tersebut dapat mengalahkan pencopet pemalak pasar Gedhe, mereka pun bersorak dan muncul keberanian dalam diri mereka, yang kemudian bersama-sama berteriak usir mereka, bahkan mereka merengsek maju sambil membawa kayu, batu dan apa saja sambil berteriak pukul, hajar bahkan bunuh mereka. Mendapat perlakuan demikian, gerombolan pencopet pemalak tersebut ketakutan dan terkencing-kencing dikepung oleh orang banyak. Mereka yang tadinya merasa di atas angin menjadi seperti tikus dipojokan menggigil ketakutan.
Untung saja Bibi Wardani segera mencegah agar tidak terjadi penganiayaan, dengan meminta mereka tenang dan menyerahkan urusan pada lurah pasar. Dengan agak ketakutan lurah pasar yang baru datang mendekati Bibi Wardani.
Bersambung ....
SELAMAT SORE. TETAP SEMANGAT