Langsung ke konten utama

PENDEKAR DARI PUNCAK MERAPI (0092)

Cerita Bersambung (CerBung)

PENDEKAR DARI PUNCAK MERAPI (0092)
Oleh: Ki Kusumo P.D.A.J

Bibi Wardani dan Gendis yang baru datang menuju tempat berdagang dicegat oleh Lamun agar cepat pergi menjauh dari pasar, karena gerombolan berandalan mencari Bibi. Mendengar penjelasan tersebut, Bibi Wardani menyerahkan buntalan kepada Lamun dan mengajak Gendis menuju kerumunan di tengah pasar. Orang-orang yang melihat kedatangan Bibi Wardani menjadi cemas dan mengingatkan agar menyingkir, tetapi Bibi Wardani tetap maju menerobos kerumunan orang.
Begitu sampai di depan dan terlihat pimpinan berandalan siap menempeleng pedagang yang mencegah tadi, Bibi Wardani berkata:'' Ki sanak .... lepaskan orang itu ...  ia tidak bersalah .... aku yang telah mengingatkan anak buahmu untuk tidak berlaku jail.'' Dengan sangat tenang dan penuh wibawa Bibi Wardani menegur pimpinan berandalan tersebut

Mendengar teguran tersebut, pimpinan berandalan melepaskan cengkeramannya serta menoleh ke suara tersebut. Betapa terkejutnya ketika yang dilihat seorang perempuan sudah cukup berumur tinggi kecil, begitu beraninya menegurnya. Maka ia pun berteriak: '' Hai .... kamu berani-beraninya menegurku .... ingin kupatahkan lehermu.''' Sambil ia berjalan menuju Bibi Wardani dengan mengajungkan tinjunya. Gendis yang berada di samping ibunya bertepuk tangan tanpa rasa takut sambil ''cengingisan''. Melihat tingkah Gendis makin membuat marah berandalan tersebut dan ia pun mencabut goloknya. Para penonton di sekeliling menjadi ketakutan dan kawatir melihat peristiwa yang menegangkan tersebut. Mereka kasihan pada kedua wanita tersebut,  tetapi mereka pun tidak berani berbuat apa-apa.

Semakin dekat bukannya wanita tersebut ketakutan, tetapi tetap berdiri tegak dan matanya tajam menatap pumpinan berandalan. Anak buah berandalan pun merengsek maju dengan senjata di tangan mengikuti ketua gerombolan. Gendis yang tingkahnya lucu sebagaimana anak remaja, maju ke depan dan berkata: ''Ini tidak adil .... kalian mau mengeroyok wanita ... kalau berani lawan satu persatu .... dan jangan di tengah pasar.... kasihan para pedagang, nanti dagangannya rusak .... kalian mampu mengganti?'' Mendapat tantangan dari seorang gadis kecil, ketua bwrandalan makin marah, tetapi ia juga merasa malu dimuka umum ditantang demikian oleh wanita remaja. Ia pun menanggapi: '' Baik .... tantanganmu aku terima .... tetapi jangan satu lawan satu ... kalian berdua maju .... aku sendiri yang menghadapi.'' Dengan penuh keyakinan ketua berandalan itu menjawab tantangan Gendis.  Para penonton pun makin panik, bagaimana nasib wanita tersebut kalau berkelahi dengan si brewok penguasa pasar.

Bibi Wardani dan Gendis langsung berloncatan keluar kerumunan menuju lapangan di depan pasar yang biasa digunakan untuk menambatkan kuda atau gerobak. Para penonton terkejut begitu lincahnya kedua wamita tersebut meloncat bersalto melewati atas kerumunan. Si brewok pun juga kaget melihat kelincahan kedua wanita tersebut, dan dalam hati juga agak was-was karena kedua wanita tersebut tentu bukan orang sembarangan. Penguasaan ilmu kanuragan dasar sudah cukup tinggi, sehingga hanya sekali lenting sudah keluar dari kerumunan. Para berandalan pun menyusul menyeruak diantara penonton, hanya dengan mengandalkan kekuatan fisik, si brewok saja yang ikut melenting keluar kerumunan menyusul kedua wanita tersebut. Sampai di tengah lapangan, Gendis sudah duduk di tempat mengijat kuda sambil bersiul-siul, sedangkan Bibi Wardani berdiri tegak di tengah lapangan menunggu kemunculan para berandalan.

Berhadapan dengan wanita yang kelihatan lemah, si brewok segera menyarungkan goloknya dan bersiap berkelahi dengan tangan kosong. Gendis bertepuk tangan melihat kelakuan si brewok yang menyarungkan goloknya, lalu berkata: ''Hebat .... ternyata kamu jantan .... tapi tidak seru kalau berkekahi tanpa taruhan .... heeeeee,'' Sementara itu anak buah berandalan mengepung mereka dengan senjata di tangan. Tanpa rasa takut Gendis kembali berkata: ''Hai .... kalian semua .... taruhan perkelahian ini  adalah .... bila kalian kalah.... maka kalian semua tidak boleh lagi menginjakkan kaki di pasar ini dan mengganggu para pedagang dan pengunjung ''

Bersambung ....

SELAMAT SORE. TETAP SEMANGAT 

Postingan populer dari blog ini

':RAHAYU NIR ING SAMBIKALA'

':RAHAYU NIR  ING SAMBIKALA' Suatu saat ketika pergi ke suatu desa yang agak pelosok di daerah Yogya untuk bertemu dengan seorang teman, saya mendapat petunjuk atau ''ancar-ancar'' letak rumahnya. Sesampai di daerah tersebut, karena memang belum tahu wilayah dimaksud, maka untuk meyakinkan, kemudian mendatangi suatu rumah yang kebetulan sedang ada beberapa orang duduk-duduk di teras bercerita. Dengan menggunakan bahasa Jawa, saya menyapa: ''Kulo Nuwun, nyuwun sewu, badhe tanglet, dalemipun pak... menika ingkang pundi?'' . Terjemahannya ''Permisi, maaf mengganggu, mau bertanya, rumahnya pak...itu yang sebelah mana?' Salah satu bapak yang  duduk di depan kemudian menunjuk salah satu rumah bercat biru, tiga rumah dari tempat tersebut. Kemudian salah salah satu bapak yang lain nyelutuk:'' Wah... Saking nagari, njeh? Ketawis saking ngendikane, mlipis.': terjemahannya ''Wah ... dari kota, ya? Kelihatan dari gaya bicara...

ALAM SEMESTA 'KITAB' TERBUKAx

ALAM SEMESTA 'KITAB' TERBUKA Mengamati kejadian di media sosial akhir-akhir ini, di mana terjadi saling klaim bahwa keyakinan atau kepercayaannya yang  paling asli dan paling benar, menimbulkan pertanyaan besar apakah Sang Pencipta yang disebut 'Tuhan' itu ada banyak sesuai versi masing-masing keyakinan kepercayaan.  Jangan-jangan 'Tuhan' itu narasi manusia yang memang memiliki daya khayal tinggi, dalam mencari jawab atas apa yang tidak diketahui atau di luar nalar manusia lalu disebut 'Tuhan'.  Bahkan belum bertemu pun sudah dapat memerinci sifat-sifat 'Tuhan' dan ciri-ciri bahwa ini karya 'Tuhan'. Bahkan 'Tuhan' direduksi seperti manusia bisa marah, dendam, iri, suka menguji, dan menghukum manusia, tapi juga maha kasih dan maha segalanya. Manusia yang sadar dan tidak mau diindotrinasi begitu saja tentu akan bertanya apakah 'Tuhan' yang diklaim paling asli, paling benar itu kah 'Tuhan' yang sebenarnya atau hanya ...

''SUGIH TANPO BONDHO''

 ''SUGIH TANPO BONDHO'' Mungkin  ada diantara kita yang menyalah artikan falsafah Jawa 'Sugih tanpo bondho'' yang terjemahannya :'Kaya tanpa harta'', bahwa kaya itu tidak harus memiliki harta. Pertanyaannya kaya yang bagaimana kalau tidak berharta? Orang kaya pasta ada hartanya. Harta adalah bentuk dari kekayaan seseorang, jadi tidak relevan kalau kaya tanpa harta. Namun perlu digali lebih dalam makna Filosofi tersebut. Filosofi ''sugih tanpo bondho'' muncul di latar belakangi oleh situasi pada zaman itu, yaitu di   masa penjajahan, di mana banyak rakyat yang menderita, secara ekonomi. Sebagai orang yang peduli pada kaum kecil, maka untuk memberi dukungan moril agar rakyat kuat menghadapi situasi tersebut lahir falsafah tersebut, yakni falsafah '''sugih tanpo bondho'' yang "'memiliki arti Kaya Tanpa Harta. Karangan sang kakak. dari Ibu Kartini yaitu RM Sosrokartono.''' Falsafah ini menunj...