Cerita Bersambung (CerBung)
PENDEKAR DARI PUNCAK MERAPI (0091)
Oleh: Ki Kusumo P.D.A.J
Selesai menyiapkan sarapan dengan bahan yang dibeli Bibi Wardani, kemudian Nyi Bekel mengajak tamu-tamunya makan. Sambil makan mereka berbincang tentang berbagai hal dan terutana tentang kakang Dikromo yang pulang ke desa mencari keluarga. Mendengar cerita tersebut Nyi Bekel menyarankan agar Bibi Wardani dan Gendis tetap tinggal di Kotaraja sambil menunggu suaminya kembali, karena kalau menyusul pulang desa, keadaan di desa sudah memprihatinkan diterjang letusan Merapi. Suaminya pasti mencari, dan semoga ada orang yang dikenal di pengungsian yang memberitahu kalau istri dan anaknya menyusul ke kota. Nyi Bekel mengusulkan agar Bibi Wardani tinggal di rumah kosong milik mereka yang berada dua rumah di samping kanan rumah yang ditempati Bekel Taruno, daripada kosong. Bekel Taruno setuju, karena Bibi Wardani dan Gendis telah diminta untuk menjadi pengawal pribadi Nyi Bekel setelah kejadian adanya penyusup. Selain rumah twrsebut dekat, Bibi Wardani bisa sambil ke pasar membantu di tempat jualan suaminya. Bibi Wardani dan Gendis sangat berterima atas bantuan dari Bekel Taruno.
Mereka juga berbincang tentang bagaimana Bibi Wardani membekuk pencopet. Mendengar cerita tersebut Nyi Bekel kawatir kalau terjadi sesuatu di hari esok terhadqp Bibi Wardani. Bekel Taruno tersenyum mendengar kekawatiran istrinya, kemudian menjelaskan kalau pun Bibi Wardani menghadapi sepuluh pencopet pasar, semua akan takluk di kakinya. Nyi Bekel melongo mendengar penjelasan Bekel Taruno, bukannya kawatir malahan mengatakan kalau Bibi Wardani mampu menghadapi lebih banyak lagi pencopet. Bisa dimengerti kalau Nyi Bekel terheran, karena Nyi Bekel tulen sebagai ibu rumah tangga, tidak begitu tahu tentang ilmu kanuragan. Bekel Taruno kemudian menceritakan kejadian di hutan Tambakboyo, bagaimana Bibi Wardani dan Gendis yang semula dianggap wanita lemah yang harus dilindungi, ternyata keduanya memiliki ilmu kanuragan melebihi kemampuannya. Nyi Bekel berdecak kagum, dan bersyukur Bibi Wardani dan Gendis dijadikan pengawal pribadinya.
Selanjutnya Bibi Wardani dan Gendis mulai menjalani hidup hariannya dengan tinggal di rumah milik Bekel Taruno. Sekali-kali Jati Pranomo atau Jati Pragolo mengajak Garuda sepupunya yang seumur dengan Gendis bertandang ke Bibi Wardani. Sebaliknya Bibi Wardani juga sering menemani Nyi Bekel di rumah bilamana Bekel Taruno pergi, juga kalau Nyi Bekel keluar rumah Bibi Wardani dan Gendis selalu ada di sampingnya. Kesibukan ke pasar membantu Lamun juga dijalani kalau tidak ada tugas mengawal Nyi Bekel. Berbagai kesibukan tersebut membuat mereka tidak sepi, terlebih kalau melayani di pasar, membuat makin banyak saja langganannya, karena yang berjualan wanita yang supel dan menarik. Gendis yang masih remaja ternyata memiliki bakat jualan, pandai merayu calon pembeli yang lewat.
Ketika Bibi Wardani, pagi-pagi mau menuju pasar Gedhe bersama Gendis. Ada perasaan tidak enak, sehingga ia meminta Gendis untuk berhati-hati. Seperti biasa Gendis bergurau, mungkinkah bapak mau datang, sehingga ibu galau. Setelah siap merekapun melangkah menuju pasar Gedhe.
Sementara itu di pasar Gedhe terjadi kehebohann dikarenakan para pencopet pemalak marah besar akibat temannya dipermalukan di tengah pasar oleh seorang perempuan. Mereka mengamuk mencari tahu siapa perempuan yang telah mempermalukan temannya. Di depan para pedagang dan pengunjung pasar mereka mengancam akan membakar pasar kalau tidak menunjukkan dan menyerahkan wanita yang telah menghajar temannya.
Para pedagang dan pengunjung benar-benar ketakutan menghadapi tingkah polah para pencopet dan pemalak. Lurah pasar yang seharusnya bertugas mengamankan, entak pergi kemana tidak kelihatan batang hidungnya dari tadi pagi. Sepertinya lurah pasar sudah tahu kalau akan ada keributan hari ini. Para pedagang dan pengunjung hanya saling berbisik satu sama lain tidak ada yang berani melawan. Baru ketika berandalan tersebut mulai mau menumpahkan dagangan, satu orang berteriak: ''Jangan lakukan itu ....'' semua orang menoleh kepadanya, demikian pula para berandalan itu. Lalu pimpinan berandalan tersebut mendatangi orang itu dan menarik bajunya serta siap mengayunkan pukulan.
Bersambung ....
SELAMAT SORE. TETAP SEMANGAT