Cerita Bersambung (CerBung)
PENDEKAR DARI PUNCAK MERAPI (0002)
Oleh: Ki Kusumo P.D.A.J
Melihat situasi itu, tanpa pikir panjang Pandu meloncat mengarahkan tendangan mautnya ke lambung harimau. Tepat sebelum cakar harimau mencabik tubuh wanita ayu tersebut, tendangan Pandu yang disertai kekuatan tenaga dalam mendarat tepat di sisi kiri lambung harimau. Terdengar raungan keras harimau yang terlempar jauh beberapa meter dengan suara gedebuk, dan harimau tersebut terkapar dengan tulang rusuk serta organ dalam yang hancur. Pandu mendarat dengan sedikit oleng di sebelah wanita cantik yang kemudian tanpa sadar mendekapnya.
Satu harimau terbujur kaku di tanah setelah mendapat tendangan mematikan Pandu. Tinggal satu harimau yang terlihat marah dengan mengeluarkan auman keras dan panjang. Sorotan mata harimau yang sebelumnya melihat ke arah temannya yang tergeletak di tanah, diarahkan ke Pandu yang sekarang berada di depan wanita itu sambil memasang kuda-kuda siap menghadapi harimau yang marah. Wanita di belakangnya menggigil ketakutan mendengar auman panjang harimau yang sedang marah. Pandu pun minta wanita itu tenang, dan bersembunyi di balik akar akar pohon yang bergelayutan menjuntai ke tanah. Beruntung ada pohon beringin besar yang dapat menjadi tempat perlindungan.
Dengan menunjukkan taringnya yang tajam harimau belang itupun bersiap menerkam Pandu, sekali loncatan harimau melayang ke udara mengarah ke tubuh Pandu dengan kedua cakarnya yang siap mencabik dengan garangnya. Tanpa pikir panjang Pandu pun mengarahkan pukulan telapak tangan yang mengandung tenaga dalam ke arah kepala harimau. Terjadi benturan keras antara telapak tangan Pandu dan kepala harimau, Pandu pun surut selangkah akibat tenaga pukulan balik, sedangkan harimau terjungkal ke belakang dengan menekuk ekor sambil menggoyangkan kepala yang tentu 'puyeng' setelah kena pukulan Pandu. Sejenak harimau terdiam dan kemudian mengaum membalikkan tubuhnya berlari masuk hutan meninggalkan Pandu dan si wanita.
Sejenak Pandu melayangkan pandangan ke arah harimau yang berlari, lalu ia membalikkan badan, terlihat tubuh mungil yang bersembunyi di antara akar pohon yang kokoh sambil menutup mata menangis 'sesenggukan'. Pwndu pun berkata dengan lirih: '' Bahaya ... telah berlalu, nimas, .... bangun dan perbaiki kainmu!
Gadis itupun menatap lelaki gagah dengan dada bidang di depannya, ia kagum dan mengucapkan terima kasih dengan terbata-bata, meski terlihat masih kawatir dengan raungan harimau yang masih terdengar lamat-lamat di kejauhan.
Lalu gadis itupun membetulkan kainnya dan memungut buntalan yang berisi makanan, dan kemudian menunduk malu melihat tatapan syahdu Pandu.
Dengan tertunduk gadis itupun kembali berkata lirih: '' Terima kasih kakang, sudah menyelamatkan nyawaku dari harimau ganas.'' Tangan gadis itu menjulur untuk bersalaman sebagai tanda terima kasih. Ia bersyukur Sanghyang Widi mengirimkan penyelamat baginya, memang itulah kehidupan, semua telah digariskan.
Bersambung ....
SELAMAT SORE. TETAP SEMANGAT.