LONTAR PUSAKA
Serial: Prahara di Merbabu (0003)
Oleh: Ki Kusumo P.D.A.J
Rasa lapar mendera perut Kedasih, ketika dia mulai bangun tercium bau daging masak, ternyata gerombolan perampok telah menyediakan makanan daging bakar di pojok kerangkeng. Tanpa pikir panjang ia pun langsung melahap daging bakar tersebut, sambil matanya melihat situasi di luar kerangkeng. Nampak para perampok berpesta pora dengan mengelilingi api unggun yang berada di tengah halaman rumah. Tumpukan harta rampokan masih diletakkan berserak di sudut depan rumah. Markas mereka benar-benar berada di tengah-tengah hutan lebat, terlihat sekelilingnya gelap gulita tidak terlihat cahaya apapun, hanya terdengar desiran angin pegunungan yang dingin sampai merasuk ke dalam tulang. Terdengar suara binatang malam bergantian memperdengarkan suara indah tetapi menyeramkan, apalagi lolongan anjing hutan yang sayup-sayup terdengar membuat bulu kuduk berdiri. Suara tawa para perampok yang berpesta daging binatang rampasan dan minuman ciu yang memabukkan, membuat mereka tak terkendali dalam berbicara, menceritakan berbagai hal kesana kemari. Kedasih melihat tingkah laku dan mendengar suara mereka terasa mual perutnya, apalagi ketika mulai bercerita hal yang tidak senonoh.
Tanpa disadari hampir saja Kedasih berteriak ketika dilihat seorang perampok dengan berjalan sempoyongan mencari tempat untuk buang air dan dengan begitu saja melampiaskan hajatnya tanpa sadar terlihat oleh Kedasih. Untung saja Kedasih mampu menahan diri sehingga tidak berteriak, kalau dia berteriak tentu akan membuat perampok teringat akan tawanan yang di kurung. Kemudian Kedasih mulai melihat peluang untuk melarikan diri, ia bertekat apapun yang terjadi ia harus lari sejauh mungkin, tidak peduli gelapnya hutan. Ternyata para perampok terlalu yakin bahwa gadis remaja yang dibawanya tidak akan berani menerobis hutan, sehingga kerangkeng yang ada tidak dikunci dengan kuat di pintunya, hanya diikat dengan rotan dan ditahan dsri luar dengan beberapa potongan kayu. Kedasih juga masih menyelibkan pisau kecil dibalik pinggangnya yang waktu itu untuk berjaga-jaga ketika bersembunyi dengan ibunya di dalam kotak. Maka tanpa menimbulkan suara ia pelan-pelan mengiris rotan pengikat pintu, karena menggunakan pisau kecil, usaha memotong rotan tersebut cukup lama. Kadang ia berhenti dan pura-pura tertidur kalau ada anggota perampok berdiri melangkah buang air kecil. Satu persatu para pemampok yang berpesta kekenyangan dan mabok kemudian rebah tertidur, suara dengkuran bersautan silih berganti.
Tinggal pimpinan perampok Suro Branjang yang masih bangun dan minum ciu tiada henti sampai bersendawa keras. Suro Branjang berusaha bangun dari duduknya, tetapi kembali terduduk, bahkan tersungkur, dia sudah mabok dengan amat sangat, tetapi masih terus ingin bangun. Dengan sisa kesadarannya dia bangun dan berjalan dengan sempoyongan berjalan ke arah kerangkeng di mana Kedasih berada. Jantung Kedasih berdegup keras ketika melihat Suro Branjang mendekat. Kedasih pun berpikir keras untuk menyelamatkan diri, dari nafsu Suro Branjang yang sudah pasti tidak tertahan lagi setelah mabuk. Ikatan rotan di pintu sudah berhasil dipotong dan terlepas, namun masih tertahan dati luar dengan potongan kayu, dia sudah berusaha menyingkirkan, ternyata tenaganya tidak mampu. Tidak tahunya Suro Branjang sudah begitu dekat dan sempoyongan jatuh di depan pintu diantara potongan kayu, dia kembali berusaha bangun dengan muka yang beringas penuh nafsu. Kedasih menggigil memperhatikan Suro Branjang yang mulai menyingkirkan satu per satu potongan kayu dengan terhuyung, Kedadih melihat ada sepotong kayu di dekat kerangkeng, maka ia pun menarik dan bersiap di balik pintu, jika Suro Branjang masuk potongan kayu akan langsung dihantamkan sekenanya. Begitu potongan kayu yang menahan pintu berhasil disingkirkan, Suro Branjang mendorong pintu sambil menyeregai kecil karena akan menikmati kelinci kecil yang di dalam kerangkeng pikirnya. Tetapi ketika pintu terbuka dan Suro Branjang menyorongkan tubuhnya yang sudah oleng karena mabuk, sepotong kayu menghantam lehernya wehingga dia pun jatuh tersungkur masuk dalam kerangkeng. Kedasih telah memukulkan sepotong kayu dengan kekuatan puruh dan rasa marah yang meluap, dalam kegelapan dan mabuk Suro Branjang tidak waspada, sehingga dia tidak siap, tahu-tahu hantaman keras mengenai tengkuknya.
Dengan cepat Kedasih keluar, dan mengikat pintu dengan rotan yang masih ada di luar dan pelan-pelan menutupi pintu dengan potongan kayu yang ada. Kedasih kemudian berjalan mengendap-endap, setiap ada suara batuk atau ada perampok yang menggeliat ia berhenti dan berusaha sembunyi, kemudian ia menperhatikan lagi suasana, kalau aman ia berjalan mengendap kembali . Kedasih berjalan ke sudut rumah tempat barang rampokan ditumpuk, ketika tadi di kerangkeng ia melihat satu kotak tua yang sudah nampak buram kayunya berada di salah satu tumpukan barang, kemufian ia ingat pesan ayahnya sekembali dari perjalanan berdagang antara lain membawa kotak tersebut. Ketika ditanya oleh Kedasih apa isi kotak tersebut, ayahnya hanya bilang kalau belum saatnya untuk dibuka, nanti kalau kamu sudah dewasa baru akan kuserahkan padamu untuk dibuka. Sampai sekarang ia pun belum tahu isi kotak tersebut dan hal itu membuat ia penasaran untuk mengambil kembali. Ketika sampai di sudut rumah dan hendak mengambil kotak, seorang perampok terbangun dan berdehem, rupanya dia berdiri dengan sempoyongan akan buang air kecil di sembarang tempat. Kedasih geli sekaligus merasa jijik melihat itu, karena tanpa sopan dan malu laki-laki perampok itu kencing tanpa melihat sekeliling. Setelah situasi aman, Kedasih meraih kotak itu dan dengan pelan ia berjalan mengendap ke belakang rumah yang berbatasan dengan hutan lebat.
Sesampai di pinggir rimbunnya pepohonan hutan, tanpa pikir panjang dia berlari kencang masuk hutan sambil mengamit kotak kecil di pinggangnya dan golok besar di tangan kanannya untuk menebas rimbunnya semak belukar. Setelah sekian lama berlalu berlari tanpa memperhatikan arah karena memang tidak tahu arah dan suasana gelap, Kedasih berhenti sambil menarik nafas dalam-dalam dan menengok ke belakang, yang dilihat hanya pepohonan yang lebat dan gelap. Ia pun merasa lega karena tidak ada yang mengejarnya, tetapi setelah merasa tenang karena tidak ada yang mengikuti, ia oun mulai was-was dan takut, karena dalam gelap malam ia tidak tahu arah, maka ia pun merebahkan dirinya di bawah pohon besar, sambil terus berpikir langkah apa yang harus ia lakukan di tengah hutan belantara lereng Merbabu. Tanpa sadar iapun tertidur di antara akar pepohonan yang besar itu, sambil tetap memegang golok dan kotak kayu itu.
Ketika fajar mulai menyingsing di markas perampok yang ditinggalkan Kedasih, satu persatu anak buah Suro Branjang mulai terbangun sadar dari mabuknya, mereka menggeliat dan terdengar batuk-batuk, suasana masih dingin sehingga mereka masih enggan bangun.
Di kerangkeng tempat Kedasih dikurung sebelumnya, Suro Branjang mulai siuman sadar dari pingsannya, dan ketika membuka mata, ia baru sadar kenapa bisa berada dalam kerangkeng tahanan, maka ia pun berteriak keras mengumpat. Mendengar teriakan Suro Branjang, anak buahnya yang masih enggan bangun terkaget-kaget dan serentak bangun, masih antara sadar dan tidak, mereka mencari sumber suara teriakan. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat pimpinannya rebah di dalam kerangkeng sambil berteriak-teriak mengumpat. Bersamaan mereka pun menuju kerangkeng dan segera membuka pintu sambil terheran-heran dengan keadaan tersebut. Salah satu anak buah Suro Branjang berteriak: '' Mana .... tawanan kita.... kenapa yang ada malahan ketua kita yang dikerangkeng?''' yang lain juga tambah kebingunan dan ribut membicarakannya.
Melihat kelakuan anak buahnya yang tidak segera membuka pintu dan menolongnya, Suro Branjang marah sambil berteriak: '' Diam kalian .... urus aku .... lihat leherku bengkak ...yang membuatku susah bangun!!!''
Mendengar teriakan tersebut cepat-cepat mereka membuka pintu dan membawanya masuk ke dalam rumah. ''Cepat cari gadis laknat itu .... bawa kemari, biar aku habisi.'' Suro Branjang memerintahkan anak buahnya dengan sangat marah. Tidak disangka gadis kecil itu telah memperdayanya dan membuatnya terluka, dia pun terus mengumpat ketika anak buahnya mengobati lehernya. Segera yang lain bergerak mencari jejak arah larinya gadis tawanan mereka. Sambil menggerutu mereka mencari di sekeliling markas, dan ketika ditemukan tanda-tanda jejak kaki dan semak belukar yang roboh, mereka berteriak dan bersama bergerak menelusuri jejak tersebut masuk ke arah hutan ke sebelah utara. Mereka pun menyusuri jalan yang dilewati Kedasih, bagi gerombolan tersebut berjakan di tengah hutan lebst afalah ''makanan'' sehari-hari sehingga mereka pun sudah mendekati tempat istirahat Kedasih.
Suara langkah kaki dan teriakan gerombolan itu membangunkan Kedasih dari tidur lelapnya setelah semalam berlari sekuat tenaga meninggalkan markas perampok. Ia pun bergegas bangun dan kembali berlari dengan membawa kotak dan golok ditangan, Kedasih tidak mau tertangkap lagi, ia jijik dengan kelakuan para perampok yang kasar, ganas dan tidak tahu sopan santun. Selain itu, ia sangat sakit hati dengan mereka yang telah membunuh ayahnya di depan mata, juga ibunya pasti sangat menderita saat ini, ia berusaha menyelamatkan diri dan akan membalaskan dendamnya kepada perampok laknat.
Kedasih terus berlari tak tentu arah, hanya berpedoman pada pandangan jauh di depan ada pegunungan Telomoyo. Ia terus menerabas hutan lereng Merbabu, tidak peduli rintangan yang dilalui, apalagi di belakangnya masih lamat-lamat terdengar para perampok yang mengejarnya, semangatnya bangkit meskipun ia sudah kelelahan.
Bersambung ....
TETAP SEMANGAT BERKREASI