Langsung ke konten utama

LONTAR PUSAKA


LONTAR PUSAKA
Serial: Prahara di Merbabu (0002)
Oleh: Ki Kusumo P.D.A.J

Dipo Karang yang lincah bergerak dengan sepasang pedang yang dilandasi dengan ajiannya menyerang dengan bertubi-tubi, tetapi tidak satupun yang mampu mengenai tubuh Suro Branjang yang telah mengetrapkan ajian lembu sekilan. Ajian tersebut memang melindungi tubuh Suro Branjang ketika mendapat serangan pukulan maupun tusukan senjata. Semua serangan dapat dilumpuhkan dengan ajian tersebut,  karena tubuhnya seperti diselimuti tameng, sehingga serangan itu hanya berjarak sekilan dari tubuhnya. Dipo Karang pun menjadi frustasi menghadapi Suro Branjang, terlebih ketika sabetan golok menggores lengan kirinya ketika ia kurang konsentrasi karena keheranan dengan semua serangannya yang tidak dapat mengenai musuh. Keadaan ini membuatnya lengah dan satu tebasan golok Suro Branjang tepat mengenai lambungnya, sehingga ia terjungkal dan tidak bisa bangun lagi. Anak buah Suro Branjang pun bersorak ketika melihat pimpinannya mampu merobohkan lawannya. Hal tersebut menambah semangat mereka untuk membereskan lawannya. Di sisi lain anak buah Dipo Karang menjadi ciut nyalinya, karena pimpinannya bisa dikalahkan. Perkelahian pun menjadi tidak berimbang ketika beberapa anak buah Dipo Karang mulai bertumbangan.

Melihat situasi yang  tidak menguntungkan bagi  keselamatan keluarganya, Somogeni langsung melompat keluar dari kepungan penyerangnya dan mengarahkan tombak pendeknya ke arah Suro Branjang yang masih sedikit tertegun melihat lawannya bisa dikalahkan dan terkapar di depannya. Mata tombak Somogeni yang ditusukkan dengan sekuat tenaga mengarah ke pundak Suro Branjang yang masih memperhatikan tubuh Dipo Karang, hampir saja tombak tersebut menusuk Suro Branjang, kalau saja tidak ada anak buahnya yang dengan sigap melontarkan tombak ke arah Somogeni yang masih melayang di udara. Tombak itu tepat mengenai lambung Somogeni yang membuatnya hilang konsentrasi dan jatuh terguling di dekat Suro Branjang, satu goresan tipis merobek baju dan kulit Simo Branjang, yang menjadikan ia sadar dan dengan cepat mengayunkan golok mengenai tubuh Somogeni. Dua ujung senjata tombak anak buah Suro Branjang dan golok Suro Branjang  mengenai tubuh Somogeni yang membuatnya terluka parah.

Ketika melihat pimpinan penjaga dan tuannya jatuh terkapar kena senjata, anak buah Dipo Karang langsung ciut nyali dan menyerah, mereka lalu diikat oleh anak buah Suro Branjang di pohon yang ada di tengah-tengah halaman. Kemudian Suro Branjang memerintahkan anak buahnya untuk menguras seisi rumah. Tanpa dikomando ulang segera anak buahnya masuk rumah induk dan menyusur semua ruangan untuk mendapatkan harta benda lurah Somogeni. Para pengawal hanya bisa melihat dari kejauhan tingkah laku para perampok yang mengeluarkan semua barang berharga dari dalam rumah dikumpulkan di tengah-tengah pendopo. Sedangkan semua ternak yang ada di kebun bekakang rumah sudah dituntun keluar lewat pintu belakang oleh para perampik. Terdengar lenguh sapi dan suara kambing yang mengembik dibawa menjauh. Suasana begitu mencekam karena tidak ada lagi perlawanan, yang ada suara rintihan orang yang terluka terkena senjata. Beberapa perampok pun ada yang terluka dan segera dibawa keluar halaman lalu masuk ke hutan supaya tidak merepotkan kalau tiba-tiba ada bala bantuan yang datang menyerang. Strategi perampokan tersebut nampaknya sudah dirancang sedemikian rupa, sehingga hal-hal kecil pun sudah diperhitungkan dengan matang.
Ajian sirep yang telah dihembuskan  mampu membuat orang di sekitar rumah Somogeni lelap tertidur.

Di kamar utama anak buah Suro Branjang menemukan banyak harta berupa kain tenun, benda-benda berharga dan emas perak yang disimpan di kotak-kotak yang berada di sudut kamar. Ketika kotak terakhir dibuka, mereka dikejutkan dengan dua sosok wanita yang bersembunyi meringkuk dengan ketakutan. Kemudian anak buah Suro Branjang pun menggelandang keluar menuju ke pendopo sambil tertawa-tawa melihat wanita yang ketakutan. Satu sudah berumur, nampaknya istri Somogeni dan satu masih gadis yang berparas ayu dengan kulit halus kuning langsat  adalah anaknya yang bernama Kedasih. Gadis itu meronta-ronta mau melepaskan diri dari pegangan dua anak buah Suro Branjang, sedangkan ibunya benar-benar ketakutan melihat tingkah laku para perampok yang menyeretnya keluar ke pendopo. Tindakan yang tidak sopan pun dilakukan oleh para perampok yang memang haus hiburan karena tinggal di hutan, mereka mendekatkan bibirnya di pipi Nyi Somogeni saat menggelandang wanita itu, sehingga menambah rasa takut yang membuat tubuhnya makin gemetaran 

Lain halnya dengan Kedasih gadis remaja yang terus berusaha meronta dengan berteriak-teriak berusaha melepaskan diri, tapi usaha tersebut sia-sia karena dua tangan kekar memegang lengannya di sebelah kiri dan kanan sambil menyorongnya maju ke depan menuju pendopo. Sampai di pendopo kedua wanita itu disorong ke tengah di tumpukan barang rampokan, Nyi Somogeni berjongkok ketakutan sambil menangis, tetapi Kedasih yang didorong ke depan berhasil mencabut cundrik yang ada di pinggang anak buah Suro Branjang, rupanya dia dari tadi sudah mengincar cundrik tersebut, dan ketika ada kesempatan dia langsung mengambil dan mencoba menusukkan ke pendorongnya, tapi rupanya kalah cekatan, sehingga dapat ditepis oleh anak buah Suro Branjang. Namun cundrik tidak terlepas dari tangan Kedasih, sehingga ketika dia terjatuh dekat ibunya, dia pun bangun dan bersiap diri menyerang kembali siapapun yang ada di dekatnya. Meskipun Kedasih seorang gadis yang masih remaja ternyata memiliki  dasar-dasar ilmu kanuragan dan memiliki keberanian luar biasa meski yang dihadapi perampok ganas. Kedasih pun menyerang dengan sejadi-jadinya yang membuat para perampok cukup kaget, meski sambil tertawa- tawa menghadapi serangan Kedasih yang tidak membahayakan. Melihat hal itu Suro Branjang melompat dan memberikan  totokan yang melumpuhkan  ke bagian  punggung dan leher belakang Kedasih dan Kedasih pun terkulai, langsung di bopong Suro Branjang sambil berteriak keras :'' ini bagianku .... Jangan di ganggu!!!''

Melihat hal tersebut anak buahnya tidak ada yang berani melawan apalagi menyentuh Kedasih bisa mendapat hukuman atau malah dibunuh. Suro Branjang sambil memanggul Kedasih berteriak pada anak buahnya agar segera membawa barang rampokan sebelum orang-orang datang, dan berkata:'' Tinggalkan wanita tua itu .... biar mengurus suaminya .... haaaa.''. Beberapa anak buah Suro Branjang terlihat kecewa mendengar perintah tersebut, tapi mereka tidak berani melawan dan segera memberesi barang rampokan unruk dibawa keluar desa menuju hutan Merbabu. Namun ketika mereka sampai di regol depan, sebuah tombak pendek meluncur dan mengenai  punggung Suro Branjang yang memondong Kedasih. Rupanya  ketika isteri dan anaknya digelandang di pendopo lurah Somogeni lamat-lamat mendengar tangis isterinya dan teriakan gadis semata wayangnya, sehingga ia berusaha bangun mendongakkan kepala, dan ketika terlihat para perampok berjalan menuju regol, Somogeni menggunakan kekuatan terakhir, dengan  sisa tenaganya ia melemparkan tombak pendeknya mengenai punggung Suro Branjang yang berteriak kesakitan sambil melepaskan Kedasih dan mencabut tombqk tersebut. Ia menoleh dan melihat Somogeni yang kembali terjatuh setelah melontarkan tombak. Tanpa pikir panjang Suro Branjang melemparkan tombak tersebut ke arah Somogeni yang akan terjatuh, dan tombak tersebut mengenai dadanya. Lalu dengan  masih menahan  kesakitan, ia kembali memondong Kedasih berlari mengikuti anak buahnya masuk ke dalam hutan.

Sepeninggalan para perampok barulah para pengawal Somogeni berusaha melepaskan diri, setelah berhasil mereka segera memberikan pertolongan pada Somogeni dan Dipo Karang serta pengawal yang lain. Kentongan pun dipukul bertalu-talu sebagai tanda ada bencana di rumah lurah Somogeni. Mendengar suara kentongan yang bertalu, para tetangga baru terbangun dan berdatangan dengan membawa senjata seadanya. Ternyata sampai ei rumah lurah Somogeni yang didapati para korban yang merintih kesakitan,  dan mereka pun kebingungan akan apa yang terjadi. Selanjutnya mereka memberikan pertolongan dengan mengangkat dan mengumpulkan yang terluka di pendopo. Suasana pun menjadi penuh duka ketika diketahui Somogeni dan Dipo Karang tewas akibat kehabisan darah. Nyi Somogeni pun menangis melihat kenyataan ini. Tidak disangka suaminya yang baru pulang mengadakan perjalanan dagang, mengalami peristiwa naas di rumahnya sendiri. Kejadian ini benar-benar tidak disangka, desa yang selama ini aman tenteram dengan adanya perlindungan dari pemerintahan tanah perdikan, ternyata  mengalami peristiwa perampokan besar-besaran. Hal tersebut tentu akan membuat warga merasa tidak nyaman lagi, mereka harus lebih waspada menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu sesampainya gerombolan perampok sampai di markasnya yang berada di atas hutan Kopeng, di lereng gunung Merbabu yang hampir mendekati puncak, mereka beristirahat dan mengobati teman-temannya yang terluka. Suro Branjang yang terluka di punggung terkena lemparan tombak Somogeni, diobati oleh anak buahnya yang ahli ilmu pengobatan. Untung saja lukanya tidak terlalu dalam, sehingga dengan ditaburi obat dan dibungkus dedaunan obat, Suro Branjang bisa beraktivitas meski terbatas. Melihat hasil rampokannya banyak, Suro Branjang pun memerintahkan anak buahnya mengadakan pesta nanti malam, dan menyuruh anak buahnya memotong seekor sapi dan domba yang ditinggal di padang rumput di lereng sebekah bawah. 
Kedasih yang dimasukkan dalam kerangkeng yang memang disediakan di markas gerombolan perampok, mulai siuman dan membuka mata pelan-pelan.

Bersambung ....
TETAP SEMANGAT BERKREASI

Postingan populer dari blog ini

':RAHAYU NIR ING SAMBIKALA'

':RAHAYU NIR  ING SAMBIKALA' Suatu saat ketika pergi ke suatu desa yang agak pelosok di daerah Yogya untuk bertemu dengan seorang teman, saya mendapat petunjuk atau ''ancar-ancar'' letak rumahnya. Sesampai di daerah tersebut, karena memang belum tahu wilayah dimaksud, maka untuk meyakinkan, kemudian mendatangi suatu rumah yang kebetulan sedang ada beberapa orang duduk-duduk di teras bercerita. Dengan menggunakan bahasa Jawa, saya menyapa: ''Kulo Nuwun, nyuwun sewu, badhe tanglet, dalemipun pak... menika ingkang pundi?'' . Terjemahannya ''Permisi, maaf mengganggu, mau bertanya, rumahnya pak...itu yang sebelah mana?' Salah satu bapak yang  duduk di depan kemudian menunjuk salah satu rumah bercat biru, tiga rumah dari tempat tersebut. Kemudian salah salah satu bapak yang lain nyelutuk:'' Wah... Saking nagari, njeh? Ketawis saking ngendikane, mlipis.': terjemahannya ''Wah ... dari kota, ya? Kelihatan dari gaya bicara...

ALAM SEMESTA 'KITAB' TERBUKAx

ALAM SEMESTA 'KITAB' TERBUKA Mengamati kejadian di media sosial akhir-akhir ini, di mana terjadi saling klaim bahwa keyakinan atau kepercayaannya yang  paling asli dan paling benar, menimbulkan pertanyaan besar apakah Sang Pencipta yang disebut 'Tuhan' itu ada banyak sesuai versi masing-masing keyakinan kepercayaan.  Jangan-jangan 'Tuhan' itu narasi manusia yang memang memiliki daya khayal tinggi, dalam mencari jawab atas apa yang tidak diketahui atau di luar nalar manusia lalu disebut 'Tuhan'.  Bahkan belum bertemu pun sudah dapat memerinci sifat-sifat 'Tuhan' dan ciri-ciri bahwa ini karya 'Tuhan'. Bahkan 'Tuhan' direduksi seperti manusia bisa marah, dendam, iri, suka menguji, dan menghukum manusia, tapi juga maha kasih dan maha segalanya. Manusia yang sadar dan tidak mau diindotrinasi begitu saja tentu akan bertanya apakah 'Tuhan' yang diklaim paling asli, paling benar itu kah 'Tuhan' yang sebenarnya atau hanya ...

''SUGIH TANPO BONDHO''

 ''SUGIH TANPO BONDHO'' Mungkin  ada diantara kita yang menyalah artikan falsafah Jawa 'Sugih tanpo bondho'' yang terjemahannya :'Kaya tanpa harta'', bahwa kaya itu tidak harus memiliki harta. Pertanyaannya kaya yang bagaimana kalau tidak berharta? Orang kaya pasta ada hartanya. Harta adalah bentuk dari kekayaan seseorang, jadi tidak relevan kalau kaya tanpa harta. Namun perlu digali lebih dalam makna Filosofi tersebut. Filosofi ''sugih tanpo bondho'' muncul di latar belakangi oleh situasi pada zaman itu, yaitu di   masa penjajahan, di mana banyak rakyat yang menderita, secara ekonomi. Sebagai orang yang peduli pada kaum kecil, maka untuk memberi dukungan moril agar rakyat kuat menghadapi situasi tersebut lahir falsafah tersebut, yakni falsafah '''sugih tanpo bondho'' yang "'memiliki arti Kaya Tanpa Harta. Karangan sang kakak. dari Ibu Kartini yaitu RM Sosrokartono.''' Falsafah ini menunj...