Langsung ke konten utama

PENDEKAR DARI PUNCAK MERAPI (0052)

Cerita Bersambung (CerBung)

PENDEKAR DARI PUNCAK MERAPI (0052)
Oleh: Ki Kusumo P.D.A.J

Begitu melayang menghampiri kuda yang meringkik, terlihat bayangan hitam mencoba mendekati kuda, tetapi kuda tersebut mengangkat kaki depan sambil meringkik kuat-kuat, karena tidak mengenali orang yang mendatanginya. Pandu dan Jati Pragolo mendarat dekat kuda, kemudian menegur bayangan hitam yang berusaha memegang tali kekang. Bukan jawaban yang didapat tapi tendangan yang mengarah ke kakinya yang baru saja mendarat. Untung Pandu masih mampu menggeser kaki kirinya sehingga tendengan tersebut meleset. Sementara Jati Pragolo berusaha menenangkan kuda-kuda yang ada untuk lebih mendekat ke tebing gunung agar mudah dikendalikan, tidak lari ketakutan.

Ternyata orang yang mau mencuri kuda tersebut tidak sendiri, tahu-tahu tempat tersebut sudah dikepung oleh segerombokan orang dengan senjata terhunus siap menyerang  Ki Joko, Bapa Jati dan Nyi Sumirah serta Rara Selasih yang tertidur  Mendengar suara ringkik kuda mereka pun terbangun dan bertanya pada Jati Pranomo dan Ningrum, apa yang telah terjadi. Terdengar tawa menyerigai sebelum Jati Pranomo menjawab, diikuti dengan suara menggelegar:'' Ha haaaa haaaaaa ..... kalian cepat serahkan semua kuda dan barang berharga kalian .... sebelum kami bertindak kasar pada kalian ....haaaa haaaa''. Seorang tinggi besar dengan brewok lebat dengan pedang besar panjang menegur Pandu yang siap menyerang bayangan hitam yang mau mencuri kuda. Pandu pun menjawab: '''Kami hanya sekelompok petani yang sedang beristirahat dalam perjalanan, mohon jangan diganggu.'' Mendengar jawaban tersebut orang brewok makin keras tertawa, sambil berkata: ''Kelinci .... cepat serahkan kuda dan hartamu, .... kalian akan kami biarkan pergi .... haaaaa ... serahkan semua pada kami,  Ular Gunung penguasa hutan Turi ..... haaaaaa.''

Ketika si brewok yang nampaknya pimpinan gerombolan Ular Gunung tertawa terbahak-bahak dengan mengangkat pedang besarnya menakut-nakuti Pandu. Terdengar suara gemerincing, tiba-tiba pedang besar itu seperti dilempar batu dan terpental jatuh. Si Brewok terkejut mengalami peristiwa tersebut, ternyata Ki Joko yang memang suka bergurau, menyambit pedang tersebut dengan kerikil yang disertai kekuatan tenaga dalam, maka tak urung benturan kerikil dan pedang tersebut berbunyi gemerncing. Sebagai pimpinan gerombolan ia merasa dipermainkan oleh mereka yang menyebut diri para petani, maka ia pun memerintahkan anak buahnya menyerang dengan menggunakan senjata.

Begitu mereka mengangkat senjata untuk maju  menyerang Pandu, Jati Pragolo dan rombongan yang beristirahat di cerukan tebing, tiba-tiba senjata mereka berguguran jatuh lepas dari tangan mereka, setelah tangan mereka disambit dengan kerikil yang dilontarkan oleh Ki Joko dan Bapa Jati secara diam-diam. Mereka benar-benar kebingungan, siapa yang telah menyerang mereka, karena semua orang yang menyebut diri sebagai petani tidak satupun yang bergerak. Ki Joko, Bapa Jati dan yang lain masih duduk mengelilingi api unggun, sedangkan Pandu dan Jati Pragolo masih berdiri ditempat sambil pura-pura takut. Para penyerang pun saling pandang, sambil sedikit bergidik, karena ada orang lain yang menyerang secara sembunyi-sembunyi. Padahal yang melakukan adalah kedua orang tua yang sedang berjongkok di depan perapian. Keduanya melihat bahwa gerombolan yang akan berbuat jahat tersebut hanyalah orang yang tidak memiliki ilmu tinggi dan mencari makan dengan cara yang tidak baik, sehingga Ki Joko dan Bapa Jati pun mempermainkan mereka. Sedangkan Pandu dan Jati Pragolo yang sudah berdiri pun kebingunan, siapa yang telah menjatuhkan senjata para penyerang.

Ketika mereka kebingungan, Ki Joko berdiri sambil berkata: ''Ki Sanak .... jangan bertindak kasar kepada kami, karena kami hanya petani yang numpang lewat di wilayah kalian.'' Para penyerang itupun menoleh pada Ki Joko, dan sang pemimpin berkata kasar: ''Boleh kalian lewat, tapi serahkan semua harta kalian.'' Dengan lembut Ki Joko berkata: '' Kalian sendiri melihat, kami dilindungi oleh para penjaga alas Turi, yang telah menjatuhkan senjata kalian sebelum menyerang, apalagi kalau kalian memaksa mengambil barang orang kecil, pasti kepala kalian yang jadi sasaran.'' Mereka pun jadi ketakutan mendengar apa yang dikatakan Ki Joko, demikian pula pimpinan gerombolan Ular Gunung, tetapi sebagai pimpinan ia tidak mau dianggap penakut oleh anak buahnya, maka ia pun maju mau menampar muka Ki Joko.

Bersambung ....
SELAMAT SORE. TETAP SEMANGAT 

Postingan populer dari blog ini

':RAHAYU NIR ING SAMBIKALA'

':RAHAYU NIR  ING SAMBIKALA' Suatu saat ketika pergi ke suatu desa yang agak pelosok di daerah Yogya untuk bertemu dengan seorang teman, saya mendapat petunjuk atau ''ancar-ancar'' letak rumahnya. Sesampai di daerah tersebut, karena memang belum tahu wilayah dimaksud, maka untuk meyakinkan, kemudian mendatangi suatu rumah yang kebetulan sedang ada beberapa orang duduk-duduk di teras bercerita. Dengan menggunakan bahasa Jawa, saya menyapa: ''Kulo Nuwun, nyuwun sewu, badhe tanglet, dalemipun pak... menika ingkang pundi?'' . Terjemahannya ''Permisi, maaf mengganggu, mau bertanya, rumahnya pak...itu yang sebelah mana?' Salah satu bapak yang  duduk di depan kemudian menunjuk salah satu rumah bercat biru, tiga rumah dari tempat tersebut. Kemudian salah salah satu bapak yang lain nyelutuk:'' Wah... Saking nagari, njeh? Ketawis saking ngendikane, mlipis.': terjemahannya ''Wah ... dari kota, ya? Kelihatan dari gaya bicara...

ALAM SEMESTA 'KITAB' TERBUKAx

ALAM SEMESTA 'KITAB' TERBUKA Mengamati kejadian di media sosial akhir-akhir ini, di mana terjadi saling klaim bahwa keyakinan atau kepercayaannya yang  paling asli dan paling benar, menimbulkan pertanyaan besar apakah Sang Pencipta yang disebut 'Tuhan' itu ada banyak sesuai versi masing-masing keyakinan kepercayaan.  Jangan-jangan 'Tuhan' itu narasi manusia yang memang memiliki daya khayal tinggi, dalam mencari jawab atas apa yang tidak diketahui atau di luar nalar manusia lalu disebut 'Tuhan'.  Bahkan belum bertemu pun sudah dapat memerinci sifat-sifat 'Tuhan' dan ciri-ciri bahwa ini karya 'Tuhan'. Bahkan 'Tuhan' direduksi seperti manusia bisa marah, dendam, iri, suka menguji, dan menghukum manusia, tapi juga maha kasih dan maha segalanya. Manusia yang sadar dan tidak mau diindotrinasi begitu saja tentu akan bertanya apakah 'Tuhan' yang diklaim paling asli, paling benar itu kah 'Tuhan' yang sebenarnya atau hanya ...

''SUGIH TANPO BONDHO''

 ''SUGIH TANPO BONDHO'' Mungkin  ada diantara kita yang menyalah artikan falsafah Jawa 'Sugih tanpo bondho'' yang terjemahannya :'Kaya tanpa harta'', bahwa kaya itu tidak harus memiliki harta. Pertanyaannya kaya yang bagaimana kalau tidak berharta? Orang kaya pasta ada hartanya. Harta adalah bentuk dari kekayaan seseorang, jadi tidak relevan kalau kaya tanpa harta. Namun perlu digali lebih dalam makna Filosofi tersebut. Filosofi ''sugih tanpo bondho'' muncul di latar belakangi oleh situasi pada zaman itu, yaitu di   masa penjajahan, di mana banyak rakyat yang menderita, secara ekonomi. Sebagai orang yang peduli pada kaum kecil, maka untuk memberi dukungan moril agar rakyat kuat menghadapi situasi tersebut lahir falsafah tersebut, yakni falsafah '''sugih tanpo bondho'' yang "'memiliki arti Kaya Tanpa Harta. Karangan sang kakak. dari Ibu Kartini yaitu RM Sosrokartono.''' Falsafah ini menunj...