Langsung ke konten utama

TUHAN' TIDAK BUTUH DILAYANI DIBELA DISEMBAH

TUHAN' TIDAK BUTUH DILAYANI DIBELA DISEMBAH

Memahami budaya leluhur tentang keyakinan yang dianut atau dijalani para leluhur Nusantara, tentu harus melihat kembali perjalanan hidup manusia dalam proses evolusi semesta. Diawali dengan kejadian 'big bang' atau ledakan besar.
''Ledakan Dahsyat atau Dentuman Besar (bahasa Inggris: The Big Bang) merupakan sebuah peristiwa yang menyebabkan pembentukan alam semesta berdasarkan kajian kosmologi mengenai bentuk awal dan perkembangan alam semesta (dikenal juga dengan Teori Ledakan Dahsyat atau Model Ledakan Dahsyat).'' Wikipedia
Berdasarkan permodelan ledakan ini, alam semesta, awalnya dalam keadaan sangat panas dan padat, mengembang secara terus menerus hingga hari ini. Berdasarkan pengukuran terbaik tahun 2009, keadaan awal alam semesta bermula sekitar 13,7 miliar tahun lalu, yang kemudian selalu menjadi referensi sebagai waktu terjadinya Big Bang tersebut.'' Lahirnya semesta ini terus berproses berevolusi dan sampai jadinya manusia di bumi.
''Proses evolusi manusia melibatkan serangkaian perubahan alam yang menyebabkan spesies (populasi organisme yang berbeda) muncul, beradaptasi dengan lingkungan, dan ada yang punah.
Ahli Paleoantropologi dan mantan Direktur Smithsonian Institution Museum of Natural History's, Dr. Rick Potts menunjukkan beberapa bukti evolusi manusia yang berupa fosil dan artefak.
Ia menjelaskan beberapa fosil yang berasal dari, 2,5 juta tahun hingga 1 juta tahun lalu dan evolusi yang terjadi. Salah satunya bentuk fisik bagian tempurung otak yang membesar dan wajah yang mengecil.
"Otak menjadi lebih besar dari waktu ke waktu dan wajah umumnya menjadi lebih kecil dari waktu ke waktu sampai  mencapai spesies kita di mana kita memiliki otak terbesar dan wajah terkecil yang terselip di bawah tempurung otak," jelas Dr. Rick Potts.
Menurutnya, bentuk fisik manusia modern sudah sangat berbeda dengan apa yang dimiliki manusia 2,5 juta tahun yang lalu. Mereka memiliki tempurung otak yang kecil dan permukaan wajah yang besar dan miring.
"Jadi yang kita lihat adalah perubahan bentuk fisik dari waktu ke waktu, dalam hal ini ukuran otak dan ukuran wajah. Namun evolusi manusia berkembang tidak hanya perubahan bentuk fisik dari manusia purba hingga diri kita sendiri, tetapi juga perubahan perilaku," papar Dr. Rick Potts.''
Dengan kata lain manusia berubah tidak hanya fisiknya saja dalam proses evolusi tetapi juga perilakunya yang menyesuaikan dengan perkembangan otak dan cara menanggapi segala aspek dan peristiwa di lingkungannya.

Manusia sendiri baru mengalami perubahan perilaku secara cepat perkembangannya sejak mengenal api pada  satu juta tahun yang lalu, ''Jejak Penggunaan Api, Temuan tersebut diprediksi berusia sekitar 800 ribu tahun dan ditemukan di sebuah situs di Israel. Penggunaan api juga ditemukan dalam situs lain, yaitu Gua Wonderwerk di Afrika Selatan. Pada situs tersebut para ilmuwan menemukan bukti manusia menggunakan api sekitar 1 juta tahun yang lalu.'"  Di mana manusia awal berada yaitu di Afrika sebagaimana ''Para ilmuwan telah menunjukkan bahwa manusia pertama kali berevolusi di Afrika dan sebagian besar evolusi manusia terjadi di benua itu. Hal ini didasarkan pada fosil manusia purba yang hidup antara 6 hingga 2 juta tahun lalu di mana seluruhnya berasal dari Afrika.''
Penemuan api yang sudah digunakan oleh manusia sejak satu juta tahun lalu mengubah perilaku para pemburu pengumpul.  Mereka mulai menggunakan api untuk memasak binatang buruannya, sehingga yang sebelumnya untuk memprosea daging buruannya membutuhkan waktu lama, dengan digunakannya api menjadi lebih cepat dan dapat menjadikan makanan lebih awet. Perubahan perilaku yang tadinya banyak waktu untuk berburu guna mencukupi kebutuhan makan, menjadi agak berkurang waktunya untuk berburu, karena adanya api. Waktu luang yang ada digunakan untuk bercengkerama dalam kelompoknya. Pada masa awal mereka belum mengenal bahasa, cara berkomunikasi menggunakan bahasa tubuh atau isyarat. Dikarenakan  lebih banyak waktu untuk berkumpul, maka  otak mereka berevolusi menyesuaikan diri dan muncul bahasa sederhana. Manusia masa pemburu pengumpul hidup dalam kelompok. Dalam perkembangannya manusia diklasifikasikan. ''Para ilmuwan mengklasifikasikan setiap spesies dengan nama ilmiah dua bagian yang unik. Dalam sistem ini, manusia modern digolongkan sebagai Homo sapiens.''

Bagaimana evolusi manusia terjadi sampai lahir manusia modern, disebutkan bahwa ''Evolusi terjadi ketika ada perubahan materi genetik (molekul kimia), DNA yang diwariskan dari orang tua, dan proporsi gen yang berbeda dalam suatu populasi.
Gen memengaruhi bagaimana tubuh dan perilaku suatu organisme berkembang selama hidupnya. Inilah mengapa karakteristik yang diwariskan secara genetik dapat memengaruhi kemungkinan kelangsungan hidup dan reproduksi suatu organisme.
Evolusi tidak mengubah satu individu pun. Sebaliknya, itu mengubah cara pertumbuhan dan perkembangan yang diwariskan, kemudian melambangkan suatu populasi atau sekelompok individu dari spesies yang sama yang hidup di habitat tertentu.'' Habitat semesta membawa manusia ke puncak rantai kehidupan. Saat ini manusia adalah satu-satunya makhluk yang menguasai bumi. Ada masa dimana makluk lain, dinosaurus misalnya, yang meraja di bumi.

Sebagai makhluk yang menguasai bumi, terlebih setelah manusia menggunakan bahasa verbal dalam berkomunikasi. Meskipun tidak ada petunjuk pasti kapan manusia menggunakan bahasa verbal, tapi paling tidak setelah manusia mulai mengenal api, lalu perilaku hidup berubah dari pemburu pengumpul menjadi bercocok tanam atau pertanian, proses berbahasa verbal mulai lahir. Dari bahasa verbal lalu lahir bahasa tulis yang menurut para ahli ''Awal mula tulisan diketahui pada masa proto dengan sistem ideografik dan simbol mnemonik. Penemuan tulisan ditemukan pada dua tempat yang berbeda: Mesopotamia (khususnya Sumer kuno) sekitar 3200 SM dan Mesoamerika sekitar 600 SM. Dua belas naskah kuno Mesoamerika diketahui berasal dari Zapotec, Meksiko.'' Dengan adanya bahasa tulisan, mulai dapat dilacak kapan dan bagaimana manusia mengenal 'Tuhan', dari bukti tertulis yang ada. Meskipun sebenarnya manusia telah mengenal Tuhan dapat pula dilacak semenjak ada penyembahan, yang  berupa tempat ibadat atau artefak yang kemungkinan digunakan untuk menyembah sesuatu yang dianggap lebih tinggi dari manusia. Memang secara pasti kapan hal itu terjadi tidak ada bukti tertulis yang pasti, tetapi sejarah bagaimana manusia mengenal 'Tuhan' berproses sejak manusia menyejarah.

Sampai sekarang sejarah manusia dalam ber'Tuhan' terus berproses. Pemahaman tentang 'Tuhan' kadang dikecilkan ataupun direduksi menjadi tidak lagi 'Maha' atau besar stau berkuasa atau tertinggi,  Penggunaan istilah melayani, membela, memuliakan maupun menyembah 'TUhan', tidaklah bermakna apa-apa bagi sang 'Tuhan' itu sendiri.
Hal tersebut hanya bermakna bagi manusia, mengapa demikian? Dengan mengagungkan hal di luar dirinya, menyadarkan manusia bahwa dirinya terbatas. Ada hal yang tidak diketahui atau belum diketahui atau belum ditemukan jawaban atas berbagai fenomena yang dialami manusia pada zamannya, misalnya adanya halilintar, manusia pada zamannya  dulu tidak tahu bagaimana proses terjadinya halilintar, maka mereka menyebut sebagai 'cambuk dewa' misalnya. Hal yang tidak diketahui asal usulnya dilekatkan pada hal di luar dirinya yang juga tidak terjangkau oleh pikirannya pada saat itu. Demikian halnya dengan 'Tuhan' dijadikan tempat untuk mencari jawab atas berbagai hal yang tidak diketahui manusia, sehingga 'Tuhan' menjadi batas akhir untuk menjawab ketidak tahuan manusia atas fenomena yang dihadapi.

Selanjutnya hal tersebut terus berkembang seiring dengan evolusi semesta. Pencarian tentang 'Tuhan' akan terus berlanjut sampai manusia mampu menjawab fenomena yang dihadapi, bukan lagi menyandarkan pada 'sosok' di luar dirinya yang juga tidak diketahui keberadaannya. Bagi manusia  dalam perjalanan evolusinya, 'Tuhan' tidak terjangkau, bahwa ada catatan yang menceritakan tentang pertemuan manusia dengan 'Tuhan' , adalah bukan catatan sejarah, tetapi suatu pengalaman pribadi yang diceritakan kepada orang lain lalu dituliskan. Pengalaman tersebut hanya berlaku bagi pribadi, dan orang lain boleh percaya dan boleh tidak percaya. Semua kisah perjumpaan dengan :Tuhan' adalah pengalaman pribadi yang dialami oleh seseorang yang ditokohkan atau memiliki kedudukan sebagai pimpinan kelompok. Hampir bisa dipastikan kalau bukan tokoh berpengaruh, tidak ada cerita yang dicatat bagaimana perjumpaan dengan 'Tuhan'. Dari sini bisa dipahami bahwa 'Tuhan' dalam arti tertentu dapat dijadikan legitimasi atas pengaruh dari seseorang. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau saat sekarangpun ada yang memanfaatkan cerita atau mimpinya bertemu dengan malaikat, 'Tuhan' dan hal gaib lainnya, hanya agar dapat dipercaya oleh orang lain atau mendapat legitimasi tertentu. .

Bagi leluhur Nusantara yang memandang kehidupan yang sejati adalah saat hening atau 'suwung" atau kosong, maka disitulah manusia bertemu dengan 'Tuhan', maka tidaklah penting bagi leluhur Nusantara mem 'persona' kan 'Tuhan' yang butuh dilayani, disembah, dimuliakan, atau dibela, karena bagi leluhur Nusantara 'Tuhan' tidak membutuhkan itu. Manusia lah yang membutuhkannya, oleh karena itu ketika manusia melayani manusia lain, maka disitulah wujud nyata melayani 'Tuhan'. Demikian pula ketika manusia menghormati atau 'menyembah' manusia lain, maka makna sejatinya menyembah 'Tuhan'. Demikian pula ketika manusia memuliakan orang lain, maka sejatinya manusia secara nyata memuliakan 'Tuhan'. Ketika Aku dalam penjara kamu menengok Aku, ketika Aku kelaparan kamu memberi Aku makan, ketika Aku sakit kamu merawat Aku, ketika Aku tidak punya tempat tinggal kamu memberi Aku tumpangan, ketika tidak memiliki teman kamu mendampingi Aku, ketika Aku tidak memiliki baju kamu memberi Aku pakaian.  Kemampuan menemukan 'Tuhan' dalam diri sendiri, dalam diri manusia lain, dalam diri makhluk hidup, dalam diri semesta inilah yang mengantar leluhur Nusantara 'welcome' terhadap orang lain meski dengan ajaran atau keyakinan berbeda. Mereka diterima apa adanya, hanya jangan salah mengerti bahwa warisan genetik dari leluhur Nusantara ini akan bangkit ketika eksistensinya terusik.

Keyakinan leluhur Nusantara membetuk karakter tersembunyi yang tersimpan dalam genetik DNA, yang pada saatnya akan muncul apabila dimunculkan atau karena terdesak keadaan dan situasi yang ada. Adapun yang menjadi karakter yang diwariskan adalah :
1. Percaya diri
Rasa percaya diri yang sangat kuat, yang dilahirkan karena tempaan sejarah panjang manusia Nusantara. Kemampuan ini terekspresi dalam kemampuan leluhur Nusantara mengarungi dunia,  sehingga membentuk rasa percaya diri sebagai manusia. Sebenarnya rasa percaya diri juga lah yang mendasari pemahaman manusia Nusantara terhadap 'Tuhan' yang berada dalam dirinya dan dalam diri manusia lain serta semesta. 'Tuhan' yang nyata bukan yang tidak terjangkau oleh pikiran.
2. Takut dengan kesalahan diri
Leluhur Nusantara sangat reflektif dalam hidupnya, mengolah dulu dengan pikirannya baru bertindak, tidak mudah reaktif. Oleh karena itu ada istilah 'Ojo gumunan, Ojo kagetan sing sak madya'' yang artinya jangan mudah terkejut atau kaget bila  menghadapi  sesuatu, jangan mudah terkagum atau terheran dalam hidup ini, tetapi harus tetap mengendalikan diri dengan berada di tengah atau netral. Pemahaman tersebut menjadikan manusia Nusantara berhati-hati, karena takut membuat kesalahan. Dalam konteks ini, leluhur Nusantara menjadi takut berbuat 'dosa' atau kesalahan yang dapat merugikan orang lain. Manusia sendiri lah yang pada akhirnya menilai apakah ia telah melanggar atau masih dalam batas wajar. Berdosa atau tidak pada akhirnya diri sendirilah yang dengan sadar dan tepat menilai bukan orang lain.
3. Tidak menyalahkan
Dalam menanggapi setiap peristiwa kehidupan leluhur Nusantara  berhati- hati tidak menyalahkan, tetapi selalu 'digelar, digulung' artinya dilihat lebih luas dan dalam. Tidak hanya melihat permukaannya. Selain itu manusia pada dasarnya adalah tempatnya salah, oleh karenanya tidak bisa menvonis begitu saja orang lain salah. Keluhuran leluhur adalah mencari kedamaian, keselarasan, makanya muncul istilah 'ngono yo ngono ning ojo ngono', bahwa kita tidak bisa menyalahkan sesama. Pemahaman yang demikian dibutuhkan agar tercipta damai, karena damai itu manusia sendiri yang menciptakan.

Dengan warisan luhur dari para leluhur Nusantara ini lah yang mendasari konsep ber 'Tuhan' manusia Nusantara, yaitu 'Tan kena kinaya' artinya tidak bisa disepertikan. Hanya dalam keheningan dapat ditemui dan tidak dapat 'disepertikan' sehingga tidak butuh dilayani, dibeka, dimuliakan dan disembah. Manusia hanya berkesempatan untuk menjalani hidup yang sekejap untuk berbuat baik dengan tulus dan cinta, sehingga menjadi berkat bagi diri, keluarga, masyarakat dan semesta. Salam waras.

Mino, 01.November 2023
Rahayu. Rahayu, Rahayu
Kusumo Pawiro Danu Atmojo Jayadiningrat

Postingan populer dari blog ini

':RAHAYU NIR ING SAMBIKALA'

':RAHAYU NIR  ING SAMBIKALA' Suatu saat ketika pergi ke suatu desa yang agak pelosok di daerah Yogya untuk bertemu dengan seorang teman, saya mendapat petunjuk atau ''ancar-ancar'' letak rumahnya. Sesampai di daerah tersebut, karena memang belum tahu wilayah dimaksud, maka untuk meyakinkan, kemudian mendatangi suatu rumah yang kebetulan sedang ada beberapa orang duduk-duduk di teras bercerita. Dengan menggunakan bahasa Jawa, saya menyapa: ''Kulo Nuwun, nyuwun sewu, badhe tanglet, dalemipun pak... menika ingkang pundi?'' . Terjemahannya ''Permisi, maaf mengganggu, mau bertanya, rumahnya pak...itu yang sebelah mana?' Salah satu bapak yang  duduk di depan kemudian menunjuk salah satu rumah bercat biru, tiga rumah dari tempat tersebut. Kemudian salah salah satu bapak yang lain nyelutuk:'' Wah... Saking nagari, njeh? Ketawis saking ngendikane, mlipis.': terjemahannya ''Wah ... dari kota, ya? Kelihatan dari gaya bicara...

ALAM SEMESTA 'KITAB' TERBUKAx

ALAM SEMESTA 'KITAB' TERBUKA Mengamati kejadian di media sosial akhir-akhir ini, di mana terjadi saling klaim bahwa keyakinan atau kepercayaannya yang  paling asli dan paling benar, menimbulkan pertanyaan besar apakah Sang Pencipta yang disebut 'Tuhan' itu ada banyak sesuai versi masing-masing keyakinan kepercayaan.  Jangan-jangan 'Tuhan' itu narasi manusia yang memang memiliki daya khayal tinggi, dalam mencari jawab atas apa yang tidak diketahui atau di luar nalar manusia lalu disebut 'Tuhan'.  Bahkan belum bertemu pun sudah dapat memerinci sifat-sifat 'Tuhan' dan ciri-ciri bahwa ini karya 'Tuhan'. Bahkan 'Tuhan' direduksi seperti manusia bisa marah, dendam, iri, suka menguji, dan menghukum manusia, tapi juga maha kasih dan maha segalanya. Manusia yang sadar dan tidak mau diindotrinasi begitu saja tentu akan bertanya apakah 'Tuhan' yang diklaim paling asli, paling benar itu kah 'Tuhan' yang sebenarnya atau hanya ...

''SUGIH TANPO BONDHO''

 ''SUGIH TANPO BONDHO'' Mungkin  ada diantara kita yang menyalah artikan falsafah Jawa 'Sugih tanpo bondho'' yang terjemahannya :'Kaya tanpa harta'', bahwa kaya itu tidak harus memiliki harta. Pertanyaannya kaya yang bagaimana kalau tidak berharta? Orang kaya pasta ada hartanya. Harta adalah bentuk dari kekayaan seseorang, jadi tidak relevan kalau kaya tanpa harta. Namun perlu digali lebih dalam makna Filosofi tersebut. Filosofi ''sugih tanpo bondho'' muncul di latar belakangi oleh situasi pada zaman itu, yaitu di   masa penjajahan, di mana banyak rakyat yang menderita, secara ekonomi. Sebagai orang yang peduli pada kaum kecil, maka untuk memberi dukungan moril agar rakyat kuat menghadapi situasi tersebut lahir falsafah tersebut, yakni falsafah '''sugih tanpo bondho'' yang "'memiliki arti Kaya Tanpa Harta. Karangan sang kakak. dari Ibu Kartini yaitu RM Sosrokartono.''' Falsafah ini menunj...