Cerita Bersambung (CerBung)
PENDEKAR DARI PUNCAK MERAPI (0098)
Oleh: Ki Kusumo P.D.A.J
Di bawah rembulan yang mulai memperlihatkan sinarnya, mereka berdua membuat perapian untuk mengusir nyamuk dan menakut-nakuti binatang malam. Ikan yang tadi sore ditangkap sudah beraaa di perapian untuk jadi ikan bakar yang lezat di kala perut keroncongan alias lapar, beberapa buah-buahan yang diperik okeh Pandu sudah pula siap dinikmati berdua. Sambil menunggu masak mampak Ningrum menyandarkan kepalanya di bahu Pandu yang kekar dan menggelayutkan tangannya manja. Pandu mengelus kening Ningrum matamya menatap rembulan yang seakan membwrikan sinarnya untuk mereka berdua. Suasana seperti itu yang selalu ingin dinikmati oleh pasangan muda, seakan tidak mau neranjak dari kemesraan memasuki dunia nyata yang penuh tantangan. Begitulah pasangan yang sedang dimabuk cinta, dunia hanya milik berdua. Mereka tidak sadar sepasang mata mengamati dari kejauhan apa yang mereka lakukan.
Bau harum ikan bakar yang mulai gosong menyadarkan mereka berdua dan secara bersamaan berteriak: ''Gosong ....!!!''. Maka cepat-cepat Pandu mengurangi api dengan menyisihkan kayu bakar, sedangkan Ningrum mengangkat ikan dan meketakkan di daun talas yang sudah disiapkan. Kerjasama yang oenuh cinta sehingga ikan bakar yang sedikit gosong tetap terasa enak karena hati mereka berdua dibalut dengan perasaan cinta yang menyebabkan segalanya menjadi indah. Itulah cinta dapat mengakahkan segalanya dan membalut semua yang tidak baik menjadi tetap indah. Tanpa adanya cinta dunia akan menjadi tidak nermakna serta hampa. Cinta selain membawa damai, keindahan dan kebaikan juga membawa hatapan akan mada depan yang lebih baik. Cinta adamya memberi dan menerima apa adanya, bukan afa apanya baru muncul cinta. Mereka nikmati makan malam berdua di bawah sinar rembulan sambil bermesraan dengan mengeluarkan kata-kata pujian.
Selesai makan malam dan duduk bersantai, mereka berdua masuk ke dalam gua untuk beristirahat, perapian dibiarkan menyala meskipun kecil. Begitu meketakkan kepala mereka tertidur lelap, suara nafas mulai teratur menandakan bahwa sudah pulas tidurnya. Nyala perapian yang di depan mulut gua mulai meliuk-liuk terterpa angin sepoi-sepoi malam hari, tampak bayangannya masuk ke dalam gua. Pelan-pelan nampak bayangan manusia yang mengendap mendekati perapian dari sisi kiri gua. Ternyata yang datang si kakek yang tidak sadar kalau bayangannya masuk ke dalam gua, sehingga kalau penghuni gua terbangun pasti akan ketahuan. Tetapi dengan santai si kakek duduk mempungungi mulut gua dan mulai makan buah dan sisa ikan yang ada. Padahal makanan tersebut disisakan oleh Ningrum dengan maksud untuk sarapan pagi besok. Si kakek begitu santai menikmati makanan yang ada dan setelahnya berbaring di mulut gua dengan menambahkan kayu bakar agar nyalanya menbesar memberi kehangatan dan tubuh tidak terasa dingin terkena udara malam lereng gunung.
Seperti biasa tengah malam Pandu terbangun, betapa kagetnya ia melihat siluet bayangan manusia duduk. Perlahan iapun mendongakkan kepala melihat ke luar mulut gua, ternyata si kakek aneh sedang duduk bermeditasi di perapian. Melihat hal tersebut Pandu tidak berani bangun, dalam hati bertanya-tanya bagaimana mungkin ia tidak mendengar kedatangannya. Pasti orang ini berilmu tinggi sehingga mampu menggunakan ilmu meringankan tubuh sehingga langkah kaki sewaktu datang dan beraktifitas sampai tidak ia ketahui. Perlahan Pandu membangunkan Ningrum sambil memberi isyarat dengan meletakkan jari telunjuk dibibir agar tidak bersuara. Lalu dengan kerling mata ia memberi isyarat untuk melihat bayangan yang masuk ke dalam gua dan membisikan di telinga Ningrum kalau si kakek aneh duduk di perapian.
Mereka berdua pura-pura tetap twrtidur, tetapi matanya memperhatikan siluet bayangan si kakek di dinding gua. Terlihat se kakek kembali membuat gerakan aneh jurus ilmu kanuragan dengan meloncat ke sana kemari seperti seekor kijang yang begitu lincah melompat sambil meliukkan rubuhnya. Kadang kakinya bwrgerak menendang dan pukulan tangannya mengarah ke depan, juga bentuk tangkisan pertahanan mereka berdua seperti menonton wayang yang bergerak ke sana kemari dwngan jurus-jurus yang luar biasa. Tanpa terasa si kakek telah menyekesaikan latihannya dan kembali bermeditasi. Pandu dqn Ningrum membayqngjan kembali gerakan si kakek dalam pikiran masing-masing.
Bersambung ....
SELAMAT SORE. TETAP SEMANGAT